Jumat, 18 November 2011

Pengalamanku II

7 kali jatuh
Hari masih pagi. Matahari belum menampakkan dirinya diufuk Timur. Kabut berwarna putih menutupi pandangan mata. Udara sangat dingin menusuk tulang. Kupaksakan diriku menuju garasi untuk memanaskan motor tuaku. Sekali-dua kali motor GL Max keluaran tahun 89 itu kustater namun belum juga berbunyi. Aku mencoba lagi dengan terlebih dahulu menstater tanpa mengontak kuncinya, namun juga belum berhasil. “Ritual” pemanasan motor sampai berkali-kali seperti ini sebenarnya sering aku lakukan. Maklumlah motor dinas yang dipercayakan kepadaku itu sudah cukup tua bahkan sudah hampir seumuran denganku. Dengan berjuang keras akhirnya motor itu bisa berbunyi. Lumayan, bisa menjadi olah raga pagi-pagi untuk mengusir rasa dingin, pikirku dalam hati.
Hari itu aku bersama dengan pastor parokiku akan mengadakan kunjugan pastoral ke stasi Mongsia. Stasi Mongsia adalah stasi paling jauh yang berada dalam wilayah teritorial Paroki Kristus Imam Agung Abadi Sangalla’ Tana Toraja, paroki di mana aku ditugaskan untuk menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Jarak dari pastoran ke stasi tersebut sangatlah jauh dengan medan yang sangat berat. Dulu, stasi tersebut hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki 3-4 jam, tetapi syukurlah sekarang sudah bisa dijangkau dengan sepeda motor. Kendatipun sudah bisa dijangkau dengan sepeda motor, tetapi tantangan untuk sampai ke stasi tersebut tetap saja berat, karena jalan yang akan dilalui motor tersebut masih merupakan jalan rintisan. Sepanjang perjalanan sejauh puluhan kilometer, aku tidak pernah merasakan adanya jalan yang tidak bergelombang dengan aspal yang mulus. Jangankan jalan beraspal, jalan berkerikil yang halus pun akan jarang ditemui. Karena jauhnya, stasi ini hanya mendapatkan kunjungan pastoral 2-3 kali setahun, itu berarti umat di stasi tersebut sangat jarang merayakan ekaristi dan menyambut tubuh Kristus.

Harus Tahan Banting
Pagi itu semua perlengkapan sudah siap. Helm, Jaket kulit yang tebal, mantol hujan, celana jeans, dan tidak lupa sepatu boat untuk melindungi kaki dari jalan berlumpur, semuanya harus dipakai, demi keamanan dan keselamatan. Aku bersama dengan pastor parokiku pun berangkat ke stasi Mongsia. Ini adalah perjalanan pertamaku ke stasi. Aku harus bisa melalui perjalanan ini dengan baik, pikirku dalam hati.
Setapak demi setapak jalan berbatu-batu itu aku lalui. Sesekali aku harus menurunkan kakiku dari atas motor untuk menahan kalau-kalau motorku jatuh. Badanku harus pandai-pandai mengikuti arah motor yang tiba-tiba berbelok karena ada gundukan batu ataupun tergelincir karena licinnya jalan. Bahuku pun harus kuat menahan bantingan stir motor yang kadang berbelok ke kiri maupun ke kanan bahkan terangkat secara tiba-tiba. Jari-jari tanganku harus dengan lihai menarik rem dan kopling pada saat yang tepat. Dan mataku pun harus dengan cermat memilih jalan yang agak lebih baik untuk dilalui oleh motor.
Namun pada suatu pendakian yang sangat curam, tiba-tiba motorku berhenti. Aku menurunkan kedua kakiku dan dengan cekatan menarik rem depan. Tetapi sial, ternyata tali rem depannya putus. Motorku pun langsung mundur dengan perlahan padahal puncak pendakian tersebut masih jauh. Aku jadi panik. Ku coba kembali menyeimbangkan badan dan menahan beratnya motor tetapi tidak berhasil. Motor terbanting ke tanah, aku pun ikut jatuh. Syukurlah aku tidak tertindih oleh motor dan tidak jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Tetapi kakiku terkilir oleh sebuah batu pembatas jalan.
Sementara merintih kesakitan, aku melihat sekitarku dan mencoba mencari bantuan ternyata tidak seorang pun yang ada di sekitar situ. Aku juga mencari-cari di mana pastor berada, ternyata dia sudah berada jauh di depanku, walaupun aku berteriak toh dia pasti tidak mungkin mendegar teriakanku. Aku pun berusaha bangun kembali. Aku mencoba mengangkat motor yang sudah berada di bibir jurang itu. Sambil menarik rem, aku pun berusah membunyikan motor lagi. Syukurlah motor itu masih bisa berbunyi. Aku pun melanjutkan perjalananku.
Kali ini aku lebih berhati-hati. Motor pun aku jalankan dengan lebih lambat. Alon-alon asal klakon, pikirku dalam hati. Namun ternyata prinsip itu tidak berhasil menghadapi medan yang berat. Aku sudah berhati-hati dan laju motor pun aku kurangi, ternyata aku masih saja jatuh. Pada suatu penurunan yang sangat terjal, aku berusaha menarik rem tangan dan kaki, ternyata motor tidak berhenti juga. Justru jalannya bertambah laju. Aku hanya pasrah saja. Aku mencoba mengikuti arah jalan yang terjal itu, dan berusaha mencari cara bagaimana agar motor itu bisa berhenti karena di samping kiri dan kanan semuanya jurang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengarahkan motor itu ke dalam sebuah semak-semak yang ada di depanku, tepat pada sebuah tikungan tajam. Akhirnya motor itu behenti, namun aku terbanting jauh ke depan. Syukurlah aku masih bisa selamat.
Aku berusaha bangkit lagi dan mencoba melanjutkan perjalananku sementara itu hari sudah semakin siang. Jarum jam ku sudah menunjukkan pukul 9, padahal kami harus mengadakan misa di stasi pada pukul 9 pagi. Bukan lagi biar lambat asal selamat, tetapi harus cepat dan tepat, itulah prinsipku sekarang. Aku pun mulai menjalankan motorku lagi. Pada jalan yang agak baik, aku menarik gas tinggi-tinggi, namun ketika jalan jelek dan berbahaya, aku menurunkan gas. Cara ini pun tidak berhasil. Aku toh masih jatuh bahkan masih 5 kali. Setelah berkali-kali jatuh, akhirnya aku bisa sampai dengan selamat kendatipun harus jatuh sampai 7 kali. Sungguh-sungguh suatu perjalanan yang sangat mengesankan sekaligus menegangkan.

Remah-Remah
Pengalaman terjatuh sampai 7 kali ini sungguh memberikan suatu nilai tersendiri bagiku. Aku tidak tahu apakah jumlah ini terjadi secara kebetulan saja. Tetapi bagi ku, angka  7 itu memiliki makna tersendiri. Sebagaima dalam tradisi biblis, angka 7 merupakan angka sempurna, pun juga dengan pengalaman kejatuhanku sampai 7 kali. Mungkin pengalamanku ini bisa disebut sebagai pengalaman jatuh yang sempurna. Bagiku, pengalaman terjatuh namun bisa bangkit kembali itulah yang menjadikan pengalamanku ini menjadi pengalaman jatuh yang sempurna. Setiap orang pasti pernah jatuh, namun tidak setiap orang yang mampu bangkit kembali. Justru ketika kita terjatuh namun bangkit kembali menjadikan sebuah perjalanan hidup kita menjadi semakin berkesan. Aku terjatuh bahkan sampai 7 kali dalam perjalanan ke Mongsia, justru membuatnya menjadi pengalaman tak terlupakan. Ketika aku jatuh, aku harus mampu bangkit kembali.
Pengalaman jatuhku itu menyadarkan aku lagi bahwa memang aku harus mampu tahan banting. Mental yang kuat sangat dibutuhkan dalam medan yang berat. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Mgr. Piet Timang bahwa spritialitas para imam dan calon imam praja harus berspiritualitas Ayam Kampung. Artinya para imam dan calon imam harus mampu mengais, bekerja keras, dan lebih dari itu harus tahan banting.
Selain kerja keras, satu hal yang juga aku petik dari pengalaman tersebut adalah bahwa bagaimanapun, doa harus berada di atas segalanya. Bisa saja aku bekerja dengan giat, bersemangat dalam pelayanan, dan rajin mengunjungi umat tanpa kenal lelah, namun tanpa doa semuanya tidak akan berarti. Justru kemantapan hidup doa akan diuji ketika kita sudah terjun ke lapangan. Hidup doa yang mantap justru akan terbukti dalam kesibukan kehidupan sehari-hari namun masih meluangkan waktu untuk berdoa dan bermenung.

(Tulisan ini dikirim ke majalah DIALOG)
Fr. Cornelius Timang
TOPer Paroki KIAA Sangalla’

Rohani

Rosario dalam penghayatan iman katolik
 

Doa Rosario adalah salah satu bentuk doa devosi yang sangat hidup di tengah umat. Banyak umat yang merasa cocok dengan doa Rosario. Banyak permohonan yang terkabulkan karena doa Rosario. Bahkan banyak orang pula yang merasa mantap dan percaya diri hanya dengan menggunakan Rosario. Namun, kadang-kadang Rosario dipahami secara mistis. Maka sering muncul kata-kata ini: “Yang penting pake Rosario, pasti aman”. “Asalkan mendaraskan doa-doa Salam Maria pada puluhan-puluhan Rosario, semuanya akan beres”.
Terlepas dari itu semua, doa Rosario tetap menjadi kekayaan dalam khasana doa Gereja Katolik. Doa Rosario sungguh dapat membawa umat sampai pada Kristus. Mengapa Doa Rosario menjadi begitu populer di tengah umat? Lalu, di mana posisi Maria dalam penghayatan iman kita?

Rosario: Sederhana namun Sarat Makna
Rosario merupakan salah satu bentuk devosi kepada Bunda Maria. Secara harafiah “Rosario”, berarti taman bunga mawar. Dengan mendoakan Rosario, ibaratnya kita menghamparkan karangan bunga mawar di hadapan Bunda Maria.
Ada 2 tradisi asal-usul munculnya Rosario. Pertama berasal dari tradisi St. Dominikus pada abad XII. Konon Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan memberikan Rosario serta memintanya untuk mendoakan dan mewartakan Rosario ini. Kedua, berasal dari tradisi para rahib. Pada abad XII banyak umat yang terpanggil menjadi biarawan-biarawati, namun banyak di antara mereka yang tidak bisa membaca. Oleh karena itu mereka tidak bisa mengikuti pendarasan mazmur dalam ibadat harian sebagaimana yang didokan oleh para rahib. Sebagai gantinya, mereka mendaraskan 150 Bapa Kami sejumlah mazmur yang didoakan dalam ibadat harian tersebut. Agar tidak keliru dalam menghitung jumlah Bapa Kami yang didoakan, maka digunakanlah manik-manik. Seiring dengan itu, devosi umat kepada Bunda Maria juga berkembang dengan suburnya. Kebiasaan mendoakan Bapa Kami dengan manik-manik itu bergeser kepada doa Salam Maria. Seiring berjalannya waktu, akhirnya berkembanglah Rosario sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
Berkembangnya devosi umat yang subur terhadap Bunda Maria tidak terlepas dari situasi Gereja saat itu. Pada pra-Konsili Vatikan II (1962-1965), situasi Gereja sangat sentralistis dan peran para pemimpin Gereja sangat ditekankan. Liturgi pun masih menggunakan bahasa Latin yang tentu saja tidak mengerti oleh sebagian besar umat.  Karena tidak mengerti bahasa Latin, maka untuk mengisi kekosongan dalam Perayaan Ekaristi, mereka pun mendoakan doa Rosario. Hanya ketika konsekrasi, umat berhenti sebentar dari doa Rosario mereka dan menghadap ke altar. Namun setelah itu, mereka melanjutkan Rosario lagi. Hal ini dapat dimaklumi karena memang doa Rosario ini merupakan doa yang sangat sederhana dan mudah diingat. Umat yang tidak berpendidikan pun bisa mendoakannya.
Kendatipun sederhana, doa Rosario sarat akan makna. Doa rosario ternyata sungguh mengungkapkan misteri keselamatan. Jika diperhatikan, sebenarnya peristiwa-peristiwa yang direnungkan dalam doa rosario sungguh sangat biblis. Bahkan dapat dikatakan keseluruhan iman Kristiani direnungkan dalam doa rosario ini. Dan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa rosario adalah suatu ringkasan dari keseluruhan Injil, sebagaimana diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II. Misalnya doa Bapa Kami yang didaraskan dalam doa Rosario ini dikutip dari Mat. 6:9-13. Demikian juga dengan doa Salam Maria, yang diambil dari Luk. 1:28; Luk. 1:42; Luk. 1:43-45. Selain itu seluruh peristiwa yang direnungkan ada di dalam Kitab Suci, mulai dari peristiwa Gembira, Sedih, Mulia dan kemudian ditambahkan dengan peristiwa Terang. Ini dari sisi biblis. Bagaimana jika dilihat dari sisi dokumen Gereja. Ternyata juga dapat dikatakan bahwa Rosario telah merangkum keseluruhan ajaran iman Gereja yang tertulis dalam dokumen Gereja misalnya Lumen Gentium (lih. LG. 52-69). Dan bahkan ajaran resmi Gereja tentang dogma-dogma  ternyata dijabarkan dalam peristiwa-peristiwa Rosario tersebut.
Dari segi historis, biblis dan teologis, sudah sangat jelas mengapa kita mendoakan Rosario. Secara khusus kita akan melihat, mengapa kita mesti memberikan penghormatan yang tinggi kepada Maria? Dari keseluruhan hidup Yesus, kita dapat melihat bahwa betapa Dia menghormati IbuNya. Dan hal yang paling nampak ketika Maria dan Yohanes berada di bawah salib dan Yesus meminta Yohanes untuk menghormati Maria sebagai Ibu mereka. Di sini sangat jelaslah betapa Yesus sangat mengharapkan agar Gereja (yang diwakili oleh Yohanes) menghormati Maria. Pertanyaan reflektif bagi kita: Yesus saja memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Maria, mengapa kita tidak? Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghormati Maria.

Maria: Peran dan Posisinya dalam Iman
Namun ada ekstrim yang lain. Karena terlalu terpesona dengan pribadi Maria, maka kadang-kadang Maria dianggap sebagai satu-satunya penyelamat. Karena itu, tidak jarang muncul pertanyaan, di manakah posisi Maria dalam penghayatan iman kita? Apakah Maria yang menyelamatkan, atau Yesus? Apakah kita berdoa kepada Yesus atau kepada Maria?
Dalam penghayatan iman kita, tentu saja Maria bukanlah tujuan doa kita. Tujuan doa dan iman kita adalah Yesus satu-satunya. Ketika kita berdoa kepada Maria, pertanyaanya di mana posisi Yesus? Seakan-akan peran Yesus sebagai Penyelamat diabaikan karena tergantikan oleh Maria. Seharusnya, ukapan kebaktian kepada Maria melalui doa Rosario harus selalu dilihat dalam kacamata kristologi. Artinya, yang menjadi pusat adalah kristologi bukan mariologi. Karena penghayatan kita akan Yesus sebagai Kristus, maka muncullah Mariologi. Karena iman kita akan Kristus, maka kita menghormati Maria sebagai Ibu Kristus. Memang keistimewaan Maria melebihi segala makhluk yang ada di bumi bahkan melebihi malaikat di surga (LG. 66), sehingga pantas kalau dia dihormati dalam kebaktian yang istimewa. Namun HARUS tidak menggantikan kebaktian utama kepada Allah (bdk. Luk. 1:48-49). Maka kebiasaan berdoa Rosario pada saat perayaan ekaristi berlangsung, sebenarnya kurang tepat. Karena bagaimana pun ekaristi adalah puncak iman iman.
Kita menghormati Maria, tidak lain adalah karena dia adalah Ibu Tuhan. Karena kesediaanya menjadi menjawab “Ya” terhadap tawaran Malaikat untuk menjadi bunda Tuhan. Dan jawaban “Ya” Maria ini mempunyai konsekuensi yang sangat berarti bagi iman kita. Karena kesediaannyalah, maka Allah menjadi Manusia. Dan itu berarti terjadilah keselamatan umat manusia. Jadi peran Maria dalam karya keselamatan menjadi sangat penting. Namun harus diingat, Maria hanya TURUT serta dalam karya keselamatan, bukan sebagai Penyelamat itu sendiri.
Dalam tataran keanggotaan Gereja, sebenarnya Maria juga termasuk didalamnya. Maria adalah anggota Gereja sama seperti kita, namun dia adalah anggota Gereja yang unggul.  Keunggulannya, tidak lain terletak pada kerelaanya menjadi Ibu Tuhan. Selain anggota Gereja yang unggul, dia juga menjadi Ibu Gereja (bdk. LG.61). Hal itu sangat jelas digambarkan ketika Maria berada dibawah kaki salib, di mana Maria dilantik oleh Yesus sebagai Ibu Gereja dengan berkata, “Inilah Ibumu” kepada Yohanes murid-Nya (Yoh. 19:25-27). Karena pengangkatan yang istimewa dan kedekatannya dengan Yesus serta teladan kerendahan hatinya dalam iman, maka sungguh pantaslah jika kita memberikan penghormatan yang khusus kepadanya. Karena itu, kita datang pada Maria, berdoa bersama-sama dan memohon kepada Yesus Sang Pengantara kita untuk sampai pada Allah.  Atau dengan kata lain, kita mengetuk hati Tuhan bersama bersama Maria.
Akhirnya peran Maria dalam penghayatan iman kita dapat diringkas menjadi “5 M”. Yaitu: Mother (ibu), Messanger (pembawa berita), Mediatrix (perantara), Model (contoh/teladan), dan Member (anggota). Maria dihormati oleh seluruh Gereja karena dia adalah Ibu Tuhan yang membawa Yesus Sang Penyelamat ke dalam dunia melalui peristiwa inkarnasi. Karena itu, dia menjadi media perantara kita. Maria bersama dengan kita berdoa kepada kepada Yesus Sang Pengantara untuk sampai pada Allah. Kesediaannya menerima tugas yang amat berat namun mulia itu, sungguh cocok dijadikan sebagai teladan dan contoh dalam semangat penyerahan diri. Kendatipun demikian dia masih tetap sebagai anggota Gereja.
Semoga, kebaktian dan devosi yang selama ini sudah hidup di tengah umat, semakin hidup. Dan semoga kita menyadari bahwa kehadiran Maria dalam penghayatan iman kita orang Katolik, merupakan kekayaan yang tak ternilai. Maria akan selalu bersama dalam doa-doa kita, sekarang dan selamanya.

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah UTUSAN edisi Oktober 2011)
Fr. Cornelius Timang
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Teolog, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Imamat II

Menanti Imam Dambaan Umat dari Anging Mammiri

Mendengar kata retret, kebanyakan orang pasti akan langsung membayangkan suatu suasana penuh keheningan, silentium, tanpa senyuman, pokoknya semuanya serba menegangkan. Memahami retret seperti ini pasti akan membuat orang takut dan tidak tertarik mengikutinya. Namun berbeda jika retret itu dipahami sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan paksaan dan bukan sebuah kewajiban. Retret adalah waktu berlibur bersama Yesus. Artinya, retret sungguh menjadi saat yang menggembirakan bersama Yesus. Saat yang penuh kasih antara diri kita dengan Yesus.

Retret dengan Prinsip MTB
Para Frater Seminarium Anging Mammiri, calon imam praja dari Keuskupan Agung Makassar (KAMS) juga mengadakan retret, liburan bersama Yesus selama 5 hari, 17-21 Juni 2011 di Wisma Pojok, Yogyakarta. Liburan bersama Yesus ini dipandu oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF, Uskup Emeritus Banjarmasin dengan mengambil tema Berlibur Bersama Yesus, Agar Lebih Mengenal Yesus dan MencintaiNya.
Pada sesion awal, Mgr. Praja memang sudah menegaskan bahwa retret ini harus dipahami sebagai liburan bersama Yesus. “Setelah satu tahun menggeluti kuliah di kampus, sekarang saatnya kita berlibur bersama Yesus. Jadikan retret ini sebagai saat yang menyenangkan bagi Anda. Karena itu pegang prinsip MTB: Makan kenyang, Tidur nyenyak, dan Berdoa banyak. Selain itu, retret bukanlah seminar rohani. Retret adalah saat intim bersama dengan Yesus”, demikian katanya.
Dalam retret ini para frater diajak untuk merenungkan makna luhur di balik panggilan menjadi imam. Mgr. Praja mengatakan bahwa panggilan menjadi imam adalah suatu panggilan yang sangat luhur dan mulia. “Saya berani mengatakan bahwa panggilan yang paling luhur dan mulia adalah panggilan menjadi imam. Karena hanya imamlah yang bisa merubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus. Betapa luhurnya panggilan itu, sehingga tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak mensyukuri panggilan ini. Anda harus bersyukur bahwa Anda dipanggil oleh Tuhan untuk menjalani panggilan khusus ini. Anda bukanlah orang sembarangan. Anda adalah orang pilihan”, demikian beliau membakar semangat panggilan para frater. Beliau menambahkan bahwa untuk bisa bersyukur, pertama-tama harus ada rasa cinta dalam diri kita. Tuhan begitu mencintai kita, bukan pertama-tama karena kita baik, saleh, atau karena kita hebat, tetapi Tuhan mencintai kita karena kita adalah anakNya. Jadi, Tuhan itu sungguh mencintai kita sebagai anakNya, karena itu kita harus selalu beryukur dan bergembira. “Jadi imam itu harus S2. Kalian tahu to S2? S2 berarti Suka Senyum. Tetapi jangan S3, karena S3 berarti Suka Senyum Sendiri”, kata Mgr. Praja dengan senyumannya yang khas diikuti oleh gelak tawa para frater.

Menjadi Imam yang DRS
Mgr. Praja begitu terang-terangan mengupas profil imam dambaan umat sekarang ini. Beliau melihat bahwa para imam dewasa ini kadang terlalu banyak menuntut dari umatnya. Padahal mereka tidak tahu betapa umat juga sebenarnya punya hak. Paling kurang ada 2 hak umat yang harus diperhatikan oleh para imam. Pertama, umat berhak mendapatkan suri teladan hidup dari sikap dan perilaku imamnya. Kedua, umat berhak mendapat pelayanan pastoral yang sepenuh hati. Umat tidak menuntut banyak dari para imamnya. Mereka hanya mengharapkan agar imamnya benar-benar memberikan pelayanan yang tulus kepada mereka. Kadang ada imam yang bukannya melayani tetapi justru minta dilayani. “Ingat! Imam di dunia modern ini harus DRS. Tau apa itu DRS? DRS adalah Disponable (melayani), Rendah hati, dan Sederhana. Imam bukan bos, bukan birokrat gerejawi, dan bukan manager paroki. Imam adalah gembala. Jadi, sebagai gembala, mereka harus melayani dan bukan minta dilayani. Kalau mau jadi imam, harus menjadi imam yang bermutu. Bukan imam asal-asalan. Kalau memang tidak mau, keluar saja dari frater sekarang!”, katanya dengan tegas.
Berhadapan dengan realitas banyaknya imam yang saat ini meninggalkan imamatnya, Mgr. Praja mengatakan bahwa paling kurang ada 2 penyebabnya. Pertama, karena si imam melupakan Tuhan, jarang berdoa. Kedua karena ia bekerja sendiri, tidak melibatkan orang lain. Imam-imam yang meninggalkan imamatnya bukan pertama-tama karena perempuan, tetapi karena mereka telah melupakan Tuhan. Imam sudah tidak pernah berdoa. Selain itu karena si imam tidak memiliki kebiasaan sharing pada rekan imamnya. Mgr. Praja mensyaringkan pengalamannya selama lebih dari 20 tahun menjadi uskup di keuskupan Banjarmasin. Ia mengatakan bahwa selama menjadi uskup di sana, tidak ada satu orang imam pun di keuskupannya yang meninggalkan imamatnya. Salah satu kuncinya adalah karena di sana imam memiliki kebiasaan bersharing. Setiap sebulan sekali diadakan sharing bersama para imam untuk mensharingkan segala keberhasilan dan kegagalannya dalam menggembalakan umat. Ingatlah bahwa kebersamaan itu menentukan panggilan. Dan selain itu, di sana ada kebiasaan saling mendoakan. Imam mendoakan umatnya dan umat mendoakan imamnya. Kekuatan doa itu paling besar pengaruhnya. Karena itu jadi imam jangan malas berdoa.
Menjadi Imam Dambaan Umat
Pembahasan mengenai Imam Dambaan Umat ini diutarakan berdasarkan masukan dari ratusan umat yang telah dikumpulkan langsung oleh Mgr. Praja. Permenungan mengenai imam dambaan umat dimulai dari upacara pentahbisan yang dialami oleh seorang imam ketika ditahbiskan. Setiap imam harus selalu ingat apa yang dilakukan dan diucapkan dalam tahbisannya. Di sana ada janji imamat yang diucapkan dengan begitu gagah dan agung. Ingatlah bahwa dalam tahbisan tersebut seorang imam telah berjanji untuk melaksanakan tugas imamat dengan cermat dan dalam kerja sama yang setia dengan uskup menggembalakan umat Tuhan di bawah bimbingan Roh Kudus. Sekali lagi imam bukan bos, bukan birokrat gerejawi dan bukan manager paroki, imam adalah gembala. Imam ada bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.
Kedua, imam telah berjanji untuk merayakan misteri Yesus dalam Gereja dengan hormat dan setia. Imam harus mempersiapkan diri agar dapat merayakan sakramen dengan khidmat. Jangan hanya asal membaca rubrik. Jangan loncat dari tempat tidur langsung memimpin misa karena terlambat bangun. Ketiga, imam telah berjanji untuk mewartakan Sabda Allah dengan pantas dan bijaksana. Dalam berkhotbah gunakan bahasa Jepang (JElas dan gamPANG). Jangan bahasa yang sulit-sulit. Dan ingat, apa yang Anda ajarkan itu haruslah yang Anda dalami, hayati dan laksanakan dalam hidup Anda. Jangan berkotbah tentang kasih sementara Anda dengan sesama pastor di satu pastoran tidak saling mengasihi.
Keempat, imam berjanji untuk semakin erat mempersatukan diri dengan Yesus Sang Imam Agung. Hidup para imam harus bersumber dan berpusat pada Yesus dengan doa, sabda dan ekaristi. Hidup para imam harus dibimbing oleh Roh Kudus dan dihiasi oleh buah-buah Roh dan menghayati Sabda Bahagia, serta hidup bersama Maria sebagai ibu dan pelindung imam. Dan kelima, para imam telah berjanji untuk menghormati dan mentaati uskup dan para penggantinya. Para imam tidak boleh melekat pada tempat atau pekerjaan tertentu. Ingatlah, di manapun engkau dapat berbuat baik, di situlah tempatmu.    
Selain itu hidup para imam harus selalu dihiasi oleh buah-buah roh: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelembutan hati, pengendalian diri, dan kerendahan hati. Para imam harus melayani dengan penuh kasih dan gembira. Jangan sampai ada orang yang pergi dari Anda tanpa mendapatkan apa-apa. Anda sebagai imam harus menjadi saluran kasih dan berkat bagi sesama. Anda harus melayani dengan gembira karena Anda adalah pewarta kabar gembira.


Sadarilah....
Menjadi imam itu sulit. Menjadi imam itu berat. Tetapi jangan lalu berkecil hati. Ingatlah, kata-kata Leonardo da Vinci, “Otak Anda lebih cemerlang dari pada yang Anda duga”. Demikian pun dengan kemampuan Anda, lebih besar dari pada apa yang Anda pikirkan. Dan hati Anda lebih hebat dari pada yang Anda duga. Sadarilah, masa depan Gereja Indonesia dan khususnya masa depan KAMS ada di pundak Anda. Dan yakinilah, Anda tidak sendirian. Dia yang telah memanggil Anda masing-masing akan selalu setia. Dia akan selalu memberikan kekuatan kepada Anda untuk mampu melaksanakan tugas berat ini. Sehingga mudah-mudahan kelak Anda akan menjadi imam-imam yang bermutu, imam-imam yang baik, imam yang dapat dijadikan suri teladan, imam yang melayani dengan sepenuh hati, imam yang rendah hati, dan sederhana. Itulah imam dambaan umat.

Fr. Cornelius Timang
Calon imam dari Keuskupan Agung Makassar
Tinggal di Seminarium Anging Mammri, Yogyakarta
dan sekarang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di KAMS

Senin, 27 Juni 2011

Imamat

TAHBISAN BUKANLAH PENGHAPUS KECENDERUNGAN MANUSIAWI

Romo juga manusia!!! Sebagai manusia, ia mempunyai kecenderungan-kecenderungan manusiawi. Kecenderungan manusiawi itu adalah sesuatu yang alami yang sudah melekat pada setiap manusia, misalnya yang paling nampak adalah perasaan. Kecenderungan manusiawi tidaklah terhapus dengan adanya tahbisan atau penerimaan kaul. Perasaan itu tetap ada dan tetap menyatu dengan pribadi seseorang. Dalam perjalanan panggilannya, para imam dan biarawan-biarawati akan selalu bergulat dengan kecenderungan dan perasaan manusiawi ini. Bagaimana ia menerima sifat kemanusiawiannya apa adanya dan di sisi lain ia juga harus menerima bahwa ia adalah pribadi yang “spesial” yang dipanggil oleh Allah secara khusus untuk menjadi perpanjangan tanganNya untuk melayani umat dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan tidak berarti harus sempurna dan menjadi sama seperti malaikat. Pergulatan antara kemanusiawian dan kerohanian pasti akan selalu menjadi tema sentral yang harus dihidupinya selama hidupnya.

Kecenderungan manusiawi
Ada begitu banyak kecenderungan manusiawi dalam bentuk perasaan yang ada dalam diri manusia. Misalnya, sabar, baik hati, tulus, bertanggungjawab, jujur, peka, marah, jengkel, tertutup, sombong, egois, frustasi, stress, sakit hati dan lain sebagainya. Kecenderungan-kecenderungan ini harus diolah dengan baik, karena olah pribadi ini akan sangat mempengaruhi relasi dengan orang lain dan juga penerimaannya terhadap dirinya sendiri. Pengolahan kepribadian yang baik akan membuatnya merasa in dengan profesinya sebagai imam atau biarawan-biarawati, in dengan umat yang dilayaninya dan mencintai dirinya dan panggilannya. Namun jika tidak, yang muncul hanyalah perasaan tidak betah dengan pekerjaannya, dengan komunitasnya, dengan umatnya dan juga akan membenci panggilannya. Perasaan benci dan sakit hatilah yang akan selalu mewarnai perjalanan panggilannya.
Misalnya seorang romo yang baru menyelesaikan studi doktoralnya di sebuah universitas di luar negeri. Ketika ia tiba di keuskupannya, bapa uskup ternyata menempatkannya di sebuah paroki. Hal ini sama sekali tidak terpikirkan olehnya sebelumnya. Ia hanya membayangkan bahwa pasti ia akan menempati posisi yang paling tidak sesuai dengan gelar yang sekarang sudah ia sandang. Masakan saya hanya ditugaskan di paroki, pikirnya. Karena ketaatannya pada uskup, maka ia terpaksa menjalani tugas itu, dengan berharap tahun depan ia akan dimutasi ke tempat yang lebih baik. Tahun demi tahun ia lalui tidak dengan semangat. Karya-karya pastoralnya tidak berjalan dengan baik, tugas-tugas yang berhubungan dengan pengembangan iman umat ia hanya jalankan setengah hati, bahkan ia menjadi semacam pemberontak di keuskupannya. Ide-ide tentang pengembangan keuskupan selalu saja ia tolak dan ia sudah tidak terlibat lagi dalam pertemuan-pertemuan UNIO keuskupan. Kejengkelan dan sakit hatinya semakin menjadi besar setelah satu periode tugasnya bapa uskup tidak kunjung memutasi dia. Akhirnya jalan terakhir yang ia tempuh adalah pindah ke keuskupan lain.

Tahbisan atau Penerimaan Kaul Bukanlah Jaminannya
Sebuah buku yang dikarang oleh Roderick Srtange yang berjudul The Risk of Discipleship: Imamat Bukan Sekedar Selibat dalam bab kelima yaitu tentang Panggilan Manusiawi dikatakan demikian: sifat dasar (kodrat) manusia tidak dapat diubah dengan adanya tahbisan. Rahmat memperkembangkan sifat dasar (kodrat). Rahmat tidak menggantikan sifat dasar (kodrat). Kita adalah diri kita sendiri. Sifat dasar dalam bentuk perasaan adalah sesuatu yang alami. Dan perasaan itu akan selalu ada dalam diri kita.
Perasaan adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal, semua orang memilikinya, namun dalam kadar yang berbeda. Pada dasarnya perasaan dalam diri manusia bukanlah hal negatif yang harus ditekan dan dihilangkan. Perasaan itu alami. Ketika mengalami sesuatu, secara otomatis kita juga akan merasakan sesuatu. Misalnya, senang, puas, pasrah, jengkel, marah, khawatir, takut, bingung, jengkel, sakit hati dan lain-lain. Perasaan-perasaan itu akan muncul setiap saat sehingga lama-kelamaan akan menjadi tumpukan perasaan. Yang menjadi masalah adalah ketika perasaan itu muncul, kita tidak mengekspresikannya. Perasaan yang ditekan akan sangat mengganggu ketenangan kita. Apalagi jika perasaan itu berupa perasaan negatif, misalnya marah, jengkel, takut, sedih, bimbang dan lain-lain. Perasaan-perasaan seperti itu akan mengakibatkan sakit hati dan lama-kelamaan akan menjadi luka batin.
Perasaan yang tidak diekspresikan sama seperti sebuah bola yang ditekan ke dalam air. Semakin lama dan semakin kuat ditekan, dorongan dari bawah akan semakin kuat pula. Dan ketika sekali waktu terlepas, bola itu akan terdorong jauh keatas. Ketika meledak, perasaan itu akan menjadi tidak terkontrol lagi dan akan menghasilkan tindakan-tindakan yang tidak kita sadari. Oleh karena itu, perasaan perasaan yang kita alami hendaknya selalu diolah. Jangan menunda dan jangan tunggu sampai besok. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri (Mat. 6:34). Kebiasaan melakukan examen (pemeriksaan batin) setiap hari sangatlah membantu. Karena pada saat itulah kita mengolah segala pengalaman dan perasaan kita hari itu.

Mengolah kecenderungan manusiawi
Kecenderungan manusiawi dan kebiasaaan masa lalu seorang imam atau biarawan-biarawati tidak hilang dengan adanya tahbisan. Kecenderungan manusiawi akan tetap ada karena pada dasarnya perasaan-perasaan itu memang sudah melekat dalam diri manusia. Karena itu kecenderungan manusiawi itu harus diolah. Adapun cara mengolahnya adalah:
Pertama, mengakui dan menghargai perasaan. Perasaan adalah sesuatu yang tidak bisa kita sangkal. Karena itu, mau tak mau kita harus mengakuinya. Mengakui perasaan berarti menyadari dan menerima perasaan apa yang sedang kita alami saat ini. Misalnya sedang jengkel, marah, sedih, iri, sedih, senang dan sebagainya. Pada dasarnya perasaan itu netral, belum ada unsur negatif atau positifnya. Karena itu, kita tidak perlu merasa bersalah jika kita mengalami perasaan benci, marah atau iri terhadap seseorang. Tindak lanjut dari perasaan itulah yang kemudian akan bernilai negatif atau positif yakni ketika perasaan itu diwujudkan dalam tindakan, karena itu sebelum diwujudkan, perasaan itu harus dinilai terlebih dahulu.
Kedua, menilai perasaan. Setelah menyadari perasaan itu, langkah selanjutnya adalah menilainya. Menilai perasaan sama dengan menimbang-nimbang atau melihat lebih jauh perasaan itu. Misalnya dengan bertanya: apakah perasaan itu pantas  saya ungkapkan, apakah saya akan ungkapkan sekarang atau saya simpan lebih dahulu, lalu jika saya ungkapkan bagaimana saya mengungkapkannya, mengapa perasaan itu muncul: apa sebabnya?
Memang menilai sebuah perasaan yang muncul tidaklah mudah. Apalagi ketika kita sedang dikuasai oleh emosi. Oleh karena itu sebaiknya kita menenangkan diri lebih dahulu. Hal ini sama seperti seorang yang akan mencari sebuah benda yang baru saja jatuh ke dalam air yang keruh. Ia tidak akan mendapatkan benda itu jika ketika benda itu jatuh, ia langsung ingin mengambilnya. Air yang keruh itu sebaiknya ditenangkan lebih dahulu baru setelah tenang dan mulai jernih, benda itu dicari dan diambil. Perasaan juga demikian, harus ditenangkan lebih dahulu. Menenangkan diri itu sangatlah penting, karena tidak jarang konflik dengan orang lain itu diseababkan karena kita tergesah-gesah mengambil sikap atas perasaan yang kita rasakan.
Ketiga, mengungkapkan perasaaan. Bagaimanapun juga perasaan itu harus diungkapkan. Ada banyak cara untuk mengungkapkan perasaan, misalnya dengan mensharingkannya pada orang yang kita percaya, melakukan katarsis (mengungkapkan perasaan pada suatu kegiatan atau benda lain, misalnya pada buku harian) atau yang paling sering dilakukan yaitu mengungkapkannya dalam doa. Namun yang paling penting adalah kita harus berani berterus terang kepada pribadi yang bersangkutpaut dengan perasaan itu. Kadang-kadang luka batin terjadi karena adanya miskomunikasi. Suster Maria dalam contoh di atas mungkin saja tidak bermaksud menyaingi suster Lusi, demikian juga sang uskup yang tidak memutasi sang Romo, bisa jadi karena uskup melihat bahwa sang Romo memang lebih dibutuhkan di paroki daripada di tempat lain.

Penutup
Tahbisan memang bukanlah penjamin terhapusnya semua kecenderungan manusiawi yang ada dalam diri para imam atau biarawan-biarawati. Perasaan-perasaan yang kadang-kadang berujung pada sakit hati dan luka batin akan selalu saja ada. Namun tidak berarti bahwa kecenderungan manusiawi itu menjadi penghalang untuk tetap mempertahankan panggilannya. Bahkan Yesus sebagai sang Guru kita pun mempunyai perasaan yang sama dengan kita. Dia juga pernah marah, sedih dan menangis, gembira, jengkel. Itu hendak menunjukkan kepada kita bahwa untuk tetap bertahan dalam panggilan tidak berarti bahwa kita harus selalu bersih dari kecenderungan-kecenderungan manusiawi. Menjadi imam atau biarawan-biarawati tidak berarti harus sama seperti malaikat. Menjadi imam atau biarawan-biarawati berarti berani memepersembahkan kemanusiaan kita kepadaNya apa adanya dan berani menjadi abdiNya untuk menyebarluaskan kerajaanNya di dunia ini.

Oleh: Cornelius Timang



Senin, 23 Mei 2011

Pengalamanku

SAAT IBUKU TIADA
Cornelius Timang

Di seminari, setiap menjelang liburan, kami mempunyai kebiasaan mengadakan acara kerja bakti besar (opera magna) untuk membersihkan asrama. Bersih tidaknya asrama, menjadi ukuran bgi kami untuk berlibur. Semakin cepat selesai, semakin cepat pula kami pergi. Tetapi semakin lambat selesai maka semakin lambat pula kami pergi; artinya hari libur semakin berkuran. Adapun pos-pos yang harus kami kerjakan adalah unit asarma, unit pendidikan, selokan dan tempat-tempat lainnya. Pokoknya semua  harus dalam keadaan bersih. Ini juga termasuk membersihkan dinding-dinding bangunan dengan mengecat bagian yang sudah mulai keropos.
Ketika semuanya nampak sudah selesai, aku dan beberapa teman masih melanjutkan pengecatan dinding tembok yang berada tepat di samping kamarku. Kendati luasnya memang hanya beberapa meter persegi, tetapi tempatnya cukut berbahaya karena berada di lantai dua dan tak ada tempat berpijak sama sekali. Karena itu kami menjulurkan sebatang bamboo dari jendela yang satu dan bamboo yang lainpada jendela yang lain pula. Beberapa bambu kami tancapkan sebagai tiang dari dasar lantai, dan ujung bambu itu kami ikat dengan bambu yang dari jendela. Beberapa bambu yang lain kami bentangkan sebagai temapat berpijak.
Kami bekerja dengan semangat dan berusaha dapat menyelesaikannya dengan cepat. Aku mengecat pada bagian sudut bangunan itu. Berkonsentrasi penuh denga pekerjaan itu hampir membuatku tidak sadar bahwa aku sudah berada pada ujung bambu itu. Namun tiba-tiba ada teman yang menumpahkan cat pada bagian yang telah aku cat itu. Itu membuatku kesal dan memarahinya. Dia diam tanpa berkata apa-apa.
Sebualan kemudian, ketika kami sedang belajar di kelas, tiba-tiba romo rektor datang memanggilku. Aku merasa senang karena pikirku, dia pasti datang memberitahukan aku bahwa namaku telah terdaftar dalam nama seminaris yang akan menerima dana GOTAUS (Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari). Aku keluar dari kelas mengikuti romo rektor ke kamarnya. Aku dipersilahkan duduk. Tetapi di situ ada juga pamanku. Aku menjadi heran. Jangan-jangan aku hendak dieliminasi (vonis keluar), pikirku.
Romo rektor memulai pembicaraan, tetapi sebelumnya dia dan pamanku salaing memandang. Aku merasa ada yang aneh di antara mereka. “Cornelis, sabar yah...sebenarnya saya tidak tega menyampaikan ini pada kamu”. Ia berhenti sejenak. Lalu melanjutkannya, “...beberapa menit yang lalu aku mendapat telepon dari saudara kamu...katanya ....ibu kamu meninggal”, katanya sambil menunduk. “Ah, meninggal? Aku tidak percaya”, seruku. “Liburan kemarin ketika aku pulang, aku masih bertemu dengan dia koq bahkan dia masih berpesan padaku agar aku rajin belajar agar kelak dapat menjadi romo”. Pamanku yang dari tadi hanya menunduk, kini mulai berbicara, “memang. Tetapi kenyataanya memang demikian. Ibu kamu meninggal dengan tiba-tiba. Aku sudah bicara dengan romo rektor. Malam ini kamu akan pulang. Karena semua sauara kamu sudah ada di rumah, tinggal kamulah yang ditunggu,” katanya sambil menangis.
Antara sadar dan tidak, aku keluar dari kamar romo rektor. Langit terasa runtuh. Air mataku tak tertahankan lagi. Aku merasa Tuhan sungguh tidak adil. Aku masuk ke kelas, ternyata teman-temanku sudah mengetahuinya. Mereka datang menghibur aku. Mereka memelukku.
Kejadian itu terjadi dua tahun lalu. Aku kadang tidak dapat mengerti mengapa kejadian itu harus terjadi pada saat itu. Mengapa bukan pada kesempatan lain. Dan mengapa meski ibuku yang dipanggil. Mengapa bukan Ibu Grazy, tetanggaku yang sejak lahir sudah menjadi gila. Atau Ibu Saki yang setiap dua kali seminggu harus melakukan pencucian darah. Seakan-akan Tuhan tidak adil terhadapku. Ketika ibu meniggal, aku harus mengikuti ujian akhir. Juga saat itu adik yang paling bungsu baru berusia 7 tahun. Ia belum tahu apa-apa. Ia masih tergantung pada kasih sayang ibuku. Aku benar-benar tidak bisa mengerti.
Peristiwa itu benar-benar membuat panggilanku goyah. Aku merasa bahwa panggilan ini sia-sia saja. aku ingin menjadi imam untuk meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu memang ada. Dia itu Maha Baik. Tetapi bagaimana mungkin aku dapat mewartakanNya jika aku saja sudah merasa bahwa Dia itu seakan-akan tidak ada.
Melalui refleksi selama satu tahun di Tahun Orientasi Rohani (TOR), aku baru meyadari baha peristiwa itu ternyata mempunyai makna tersendiri khususnya bagi panggilanku. Aku baru menyadari bahwa kepergian ibu secara tidak langsung menjadi motivasi utama aku memutuskan untuk terus ke Seminari Tinggi. Sebelum ibuku mengembuskan nafas terakhirnya, dia ternyata selalu memanggil aku. Dia memanggil-manggil namaku. Dia berteriak-teriak “nak...doakan aku...doakan aku”. Dari kata-katanya itu, aku menarik kesimpulan bahwa dia ternyata sangat mengharapkan aku untuk terus berjuang. Ia sanagat mengarapkanku untuk dapat meraih cita-citaku, seperti pesannya ketika terakhir kali aku bertemunya saat liburan.
Aku baru menyadari bahwa itulah makna yang tersimpan di balik peristiwa itu. Sama seperti temanku yang ternyata sengaja menumpahkan cat pada tembok yang sedang aku cat. Sebenarnya dia mempunyai maksud yang sangat dalam. Aku baru sadar bahwa seandainya dia tidak melakukan itu, mungkin aku akan mendahului ibuku. Seandainya ia bereriak “awas!”, aku pasti akan kaget dan pasti akan jatuh. Demikian juga Tuhan, karyaNya kadang tak mampu kita lihat dengan sepintas tanpa melakukan refleksi.
Kematian bagi kebanyakan orang menjadi sesuatu yang sangat menakutkan dan menjadi sumber duka cita mendalam sehingga banyak orang mengambil kesimpulan yang salah, mengambil keputusan yang salah. Tetapi aku mempunyai pandangan baru tentang hal itu, yakni dari peristiwa keatian Tuhan ingin menyampaikan suatu pesan.
Kepergian ibu bukanlah sesuatu yang seharusnya aku sesali dan kuprotes pada Tuhan. Aku seharusnya bersukacita, bukan karena ibu meniggal, tetapi karena ibu kini menjadi pendoa bagiku dan bagi keluargaku. Dulu aku hanya dapat merasakan kasih sayang ibu ketika aku bertemu muka dengannya saat aku pulang ke rumah, tetapi kini aku dapat merasakan kasih sayangnya setiapa saat. Dari permenungan ini pula aku bisa menyadari bahwa Tuhan itu sungguh ada. Tuhan selalu ada di setiap langkah hidupku dan hadir nyata dalam hidupku bahkan dalam pengalaman pahit dan menyakitkan pun Dia selalu ada. Terimalah ibu dalam pangkuanMU.y

Tulisan ini pernah dimuat di majalah ROHANI edisi Februari 2008


Remah-Remah

Do you know....?
1 .Orang yang mencintai kamu tidak pernah bisa memberikan alasan kenapa ia mencintai kamu, yang ia tahu di matanya hanya ada kamu Satu2Nya.

2.Kalau kamu sudah memiliki pacar atau kekasih ia tidak perduli, buat dia yang penting kamu bahagia dan kamu tetap impiannya.

3.Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, dimatanya kamu salalu yang tercantik walaupun mungkin kamu merasa berat badan kamu sudah berlebihan atau kamu merasa kegemukan :P.

4.Orang yang mencintai kamu selalu ingin tahu tentang apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini,ia ingin tahu kegiatan kamu.

5.Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan sms seperti "selamat pagi", "selamat tidur" walaupun kamu tidak membalas pesannya.

6.Kalau kamu berulang tahun dan kamu tidak mengundangnya setidaknya ia akan menelpon utk mengucapkan selamat atau mengirim pesan.

7.Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang ia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah lupa setiap detailnya karena, saat itu adalah sesuatu yang berharga untuknya.

8.Orang yang mencintai kamu selalu mengingat tiap kata2 yang kamu ucapkan bahkan mungkin kata2 yang kamu sendiri lupa pernah mengatakannya.

9.Orang yang mencintai kamu akan belajar menyukai lagu-lagu kesukaanmu, bahkan mungkin meminjam CD/cassette kamu, karena ia ingin tahu kesukaanmu, kesukaanmu kesukaannya juga.

10.Kalau terakhir kali kalian bertemu kamu sedang sakit mungkin flu, terkilir, atau sakit gigi, beberapa hari kamudian ia akan mengirim sms dan menanyakan keadaanmu.karena ia mengkhawatirkanmu.

11.Kalau kamu bilang akan menghadapi ujian ia akan menanyakan kapan ujian itu, dan saat harinya tiba ia akan mengirimkan sms "good luck"untuk menyemangati kamu.

12.Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu ialah sesuatu yang biasa , tetapi itu ialah suatu barang yang isitmewa buat dia.

13.Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat,saat sedang berbicara ditelpon dengan kamu,sehingga kamu menjadi bingung, saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah mengguncang dunianya.

14.Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada di dekatmu dan ingin menghabiskan hari2nya denganmu.

15.Jika suatu saat kamu harus pindah ke kota lain untuk waktu yang lain ia akan memberikan nasehat supaya kamu waspada dengan lingkungan yang bisa membawa pengaruh buruk bagimu.

16.Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih.

17.Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal-hal yang konyol seperti menelponmu 100 kali dalam sehari, atau membangunkanmu ditengah malam,karena ia mengirim sms atau menelponmu.karena ia saat itu ia sedang memikirkan kamu.

18.Orang yang mencintai kamu kadang merindukanmu dan melakukan hal2 yang membuat kamu jengkel atau gila, saat kamu bilang tindakannya membuatmu terganggu ia akan minta maaf dan tak akan melakukannya lagi.

19.Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu maka ia akan mengajarimu dengan sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia!

20.Kalau kamu melihat handphone-nya maka namamu akan menghiasi sebagian besar "INBOX"nya.Ya ia masih menyimpan pesan dari kamu walaupun pesan itu sudah kamu kirim sejak berbulan2x bahkan bertahun2x yang lalu.

21.Dan jika kamu menghindarinya atau memberi reaksi penolakan, ia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupanmu, walaupun hal itu membunuh hatinya.

22.Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan ia akan ada di sana menunggumu karena ia tak pernah mencari orang lain. Ya... ia selalu menunggumu.

Adakah orang yang memperlakukan kamu dengan cara2 seperti di atas? Kalau ada, tahukah kamu kalau kamu sangat beruntung?

Dialog Agama

Raimundo Panikkar 
Menelaah Gagasan Raimundo Panikkar tentang Kebenaran dalam Suatu Agama
Oleh: Cornelius Timang

Pengantar
Akhir-akhir ini dunia sedang dilanda “demam” piala dunia. Di mana-mana kita dapat mendengar pembicaraan tentang sepak bola. Mulai dari anak kecil sampai orang tua, dari rakyat jelata sampai pada pejabat tinggi negara semua bicara soal bola. Bahkan orang yang tidak senang sepak bola pun akhirnya berusaha untuk mencari info tentang sepak bola agar bisa nyambung ketika orang lain berbicara tentang sepak bola. Saya pun sebenarnya tidak senang dengan sepak bola, tetapi saya selalu berusaha untuk ikut tahu tentang hasil dan jadwal pertandingan dan sedikit tentang data pemain serta prediksi pertandingan berikutnya.
Ketika menonton sebuah pertandingan sepak bola, muncul pertanyaan dalam benak saya: mengapa para pemain sepak bola tidak boleh menggunakan tangan padahal dalam olah raga basket, para pemain boleh menggunakan tangan, justru tidak boleh menggunakan kaki.  Mengapa bola yang digunakan hanya satu, apakah tidak lebih mudah jika menggunakan dua bola? Mengapa harus ada wasit, padahal tidak sedikit wasit yang justru kontroversial dan menimbulkan masalah. Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang muncul dalam benak saya.
Namun saya kemudian berpikir, kok saya menilai sepak bola dari kacamata basket. Bukankah basket punya aturan sendiri, dan sepak bola punya aturan sendiri. Mungkin saja para pemain sepak bola akan menganggap basket sebagai olahraga yang aneh: main bola kok menggunakan tangan? Mengapa hanya menggunakan ring yang kecil, bukankah lebih baik jika menggunakan ring yang besar seperti pada sepak bola?
Bukan hanya dalam masalah sepak bola, sering dalam hidup, kita menilai sesuatu dari kacamata kita sendiri. Padahal tidak sadar bahwa orang lain punya kacamata sendiri. Tentu saja kita tidak akan pernah hidup rukun jika hanya mempermasalahkan kacamata apa yang saya pakai dan kacamata apa yang digunakan orang lain. Dalam hidup keagamaan kita pun kadang kita menilai sesuatu dari kacamata kita sendiri saja. Manakah yang benar dan manakah yang paling baik: olahraga dengan menggunakan tangan atau dengan menggunakan kaki? Sebenarnya yang paling penting bukanlah tangan atau kakinya, tetapi yang penting adalah bahwa kedua olahraga itu menyehatkan. Demikian pun dengan agama, yang penting bukan masalah yang benar agama mana, tetapi yang paling penting adalah apakah saya telah menghidupi agama saya dengan baik atau tidak. Jika demikian, tidak akan muncul judge atau penghakiman  terhadap agama lain.
Berbicara mengenai kebenaran suatu agama, sebenarnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa suatu agama lebih benar dari agama yang lain. Apalagi jika mengukur kebenaran suatu agama bertolak dari pemahaman saya terhadap agama saya kemudian menerapkannya pada agama lain. Hal semacam inilah yang sekiranya menjadi sumber konflik antar umat beragama dewasa ini. Nah, bagaimana usaha untuk mengatasi atau paling tidak meredam konflik antar umat beragama itu? Salah satu usaha yang dilakukan selama ini adalah melalui dialog antar agama. Dalam sepanjang sejarah dialog agama, sudah ada banyak tokoh yang pernah tampil dengan gagasan-gagasan dan aksi serta karyanya di bidang dialog agama. Salah satu di antaranya adalah Raimundo Panikkar.
Bagi penulis, Panikkar adalah tokoh dialog agama yang unik dan khas. Keunikan dan kekhasannya dapat dilihat dari riwayat hidupnya dan dari pemikiran-pemikirannya. Mengenai pemikiran-pemikiran Panikkar tentang dialog agama, memang banyak. Tetapi dalam paper ini akan dibahas secara khusus pemikiran Panikkar tentang kebenaran suatu agama dalam hubungannya dengan dialog antar agama. Namun sebelum mendalami pemikiran Panikkar, ada baiknya jika dipaparkan sedikit tentang riwayat hidupnya.

Biografi
Raimundo Panikkar lahir di Barcelona, Spanyol, pada tahun 1918. Ibunya berkebangsaan Spanyol dan beragama Katolik, sementara ayahnya seorang yang berkebangsaan India dan beragama Hindu. Sejak kecil dia telah dididik dalam tradisi Katolik yang ortodoks, namun pengaruh budaya ayahnya Hindu-India juga ada dalam dirinya. Dari ayahnya dia belajar mengenai kultur dan religi Hindu-India. Proses belajarnya kemudian dikembangkan dengan mempelajari kultur Sanskerta Klasik di bawah bimbingan seorang guru Sanskerta asal Spanyol yang bernama Juan Mascaro.
Panikkar ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1946. Lalu dia ditugaskan di Diosis Varanasi, India.  Di sinilah pertemuan dan kontaknya dengan budaya dan religi India. Dia meraih tiga kali gelar doktoral, yang pertama tahun 1946 dalam bidang filsafat berkaitan dengan konsep alam (ekologi) dan gelar doktoralnya yang kedua diraihnya pada tahun 1958 dalam bidang kimia dengan sebuah tesis mengenai Filsafat Ilmu Pengetahuan dengan judul “Ontonomy Science and its Relation to Philosophy”.  Dan gelar doktoralnya yang terakhir diraihnya dalam bidang Study Agama-Agama (terutama Hindu-India) pada tahun 1961. Dari ketiga gelar doktoralnya itu dapatlah kita menarik suatu kesimpulan bahwa Pannikar adalah seorang yang haus akan pengetahuan, dan bahkan lebih dari itu dia berusaha mendalami dengan sungguh-sungguh bidang filsafat, sains dan teologi[1]. Ketiga bidang ilmu yang didalaminya ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada cara berpikir dan gagasan-gagasannya. Selain itu, faktor budaya (India dan Spanyol) kedua orang tuanya serta lingkungan di mana dia tinggal tentu saja turut membentuk pola pikirnya. 
Selama hidupnya Panikkar telah menghasilkan karya-karya besar dan terkenal terutama dalam bidang studi perbandingan agama-agama. Karya-karyanya tersebut adalah The Unknown Christ of Hinduism (1961-1964), The Silence of God: Answer of The Budha (1970), The Trinity and The Religious Experience of Man (1973), The Intra Religious Dialogue (1978).
Melihat sekilas tentang riwayat hidupnya, ada beberapa hal yang menarik dari Panikkar, yaitu latar belakang keluarganya yang sangat pluralis. Hal lain yang menarik adalah bahwa Panikkar adalah salah satu tokoh dialog agama besar yang berasal dari Asia. Dan yang paling menarik dari Panikkar adalah jawaban yang diberikannya ketika dia ditanya, bagaimana dia menjalani hidupnya berhadapan pluralitas agama. Dengan enteng dia menjawab I “left” as a Christian, I “found” myself a Hindu, and I “return” a Buddhist, without having ceased to be a Christian[2]. Hal ini menarik, karena Panikkar adalah seorang pemikir yang memberikan pemikirannya tidak berdasarkan teori semata, tetapi justru berasal dari pengalaman pribadinya. Dan lebih dari itu, dia mengatakan bahwa bergaul atau berhubungan dengan orang yang beragama lain tidak harus menanggalkan iman dan membuat iman kita luntur, tidak harus mengadili orang lain dan tidak harus memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang saya yakini.
Tetapi, karena pemikiran Panikkar selalu berangkat dari pengalamannya, maka dia tidak pernah berbicara tentang dialog dengan Islam secara implisit. Dia lebih banyak berbicara tentang Hindu-Budha dan Kristen karena dia berada di lingkungan itu. Kendatipun demikian tentu saja tidak bisa dikatakan bahwa pemikirannya sama sekali tidak relevan dalam dialog dengan Islam. Justru pokok-pokok pemikirannya tentang dialog itu dapat diterapkan dalam dialog dengan siapa pun dan agama manapun.

Teori Kebenaran
Sebenarnya ada banyak pemikiran Panikkar yang relevan dengan dialog agama, tetapi yang akan dibahas dalam paper ini adalah pemikirannya tentang kebenaran. Menurut penulis pembicaraan mengenai kebenaran ini adalah suatu dasar yang sangat penting dalam pembicaraan tentang pluralisme, yang tidak jarang telah menimbulkan gep dan masalah di antara budaya dan agama. Lihatlah konflik yang terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Misalnya yang terjadi di Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, Maluku dan Poso. Memang seakan-akan kita terlalu menyederhanakan masalah jika kita langsung mengatakan bahwa konflik yang terjadi itu semuanya didasari oleh permasalahan tentang kebenaran agama. Tetapi jika kita jujur menilainya, memang kita akhirnya akan tiba pada kesimpulan bahwa konflik antar pemeluk agama itu disebabkan karena masing-masing pemeluk agama terlalu berpegang pada kebenaran agamanya. Masing-masing merasa bahwa apa yang diyakininya itulah yang paling benar sementara yang diyakini orang lain tidak benar. Karena merasa bahwa orang lain salah maka ia berusaha untuk mempertobatkan orang yang salah itu dan ingin menghantarnya pada kebenaran. Tetapi yang menjadi masalah adalah karena cara “mempertobatkan” orang lain itu bahkan sampai pada cara kekerasan. Juga yang menjadi masalah adalah karena orang lain juga ternyata sudah memiliki kebenaran yang diyakininya sendiri dalam bentuk iman dan kepercayaannya pada salah satu agama. Siapakah dia sehingga dia berhak mengadili orang lain sebagai benar atau salah? Dan apakah dia pantas disebut sebagai orang yang benar? Padahal, cuma Tuhanlah yang berhak menentukan dan memiliki kebenaran mutlak. Jika demikian, bukankah secara teologis, klaim kemutlakan atas nama agama itu merupakan ‘kudeta’ atas kemutlakan Tuhan?
Sebelum melangkah terlalu jauh, terlebih dahulu marilah kita menyamakan pemahaman kita tentang pengertian kebenaran itu. Dalam pengertian sehari-hari, kita mengartikan kebenaran sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dengan kenyataan atau apa yang sesungguhnya terjadi[3]. Jadi ada kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Dalam konteks beragama yang disebut sebagai orang benar adalah orang yang beriman dan berperilaku baik. Wilfred Cantwell Smith, pernah mengatakan: Truth and falsity are often felt in modern times to be properties or functions of statements or propositions; whereas the present proposal is that much is to be gained by seeing them rather, or anyway by seeing them also, and primarily, as properties or functions of persons[4]. Maka itu sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara kebenaran dan moralitas. Jika kembali pada permasalahan orang yang menganggap orang lain salah lalu melakukan aksi kekerasan untuk memaksa orang lain mengikuti kebenaran yang diikutinya, maka dapatkah dikatakan bahwa orang tersebut benar sementara tindakannya tidak sesuai dengan moralitas?

Kebenaran Menurut Panikkar
Menurut Pannikar, kebenaran itu bukanlah monopoli suatu tradisi religius tertentu. Karena setiap agama dikenal melalui konteks keagamaannya sendiri dan memiliki kekhasannya sendiri, di mana yang lainnya sebagai yang lain tidak dapat dipersamakan atau diperbedakan[5]. Konflik akhirnya terjadi ketika seseorang mulai menilai seorang beragama lain dari kacamata kebenarannya sendiri. Orang semacam inilah yang kemudian dimasukkan Panikkar dalam golongan orang yang menganut paham eksklusivisme. Dan menurutnya masalah eksklusivisme inilah yang menjadi persoalan mendasar yang dapat menjadi penghambat hubungan antaragama. Now, the claim to truth has a certain built-in claim to exclusivity. If given statement is true, its contradictory cannot also be true. And if a certain human tradition claims to offer a universal context for truth, anything contrary to that “universal truth” will have to be declared false[6].
Untuk menjelaskan mengenai kebenaran ini, Panikkar mencoba memulainya dari pemahamannya tentang konsep pewahyuan dalam agama Kristen dan dalam agama lain. Selain dalam agama Kristen, ternyata dalam agama lain, dia juga menemukan adanya kebenaran tentang pewahyuan itu. Padahal menurut doktrin Kristen dikatakan bahwa Allah dipahami sebagai Allah Yang Absolut. In the Christian tradition this Absolute has a definite designation: “The Father of our Lord Jesus Christ”[7]. Panikkar mengakui bahwa di sinilah letak sikap eksklusif yang dibangun oleh orang Kristen. Setelah mengadakan perjumpaan dengan agama lain, ternyata Panikkar juga menemukan adanya kebenaran di mana kebenaran itu dipegang dan diyakini oleh mereka. Misalnya dalam agama Hindu dikenal adanya konsep noneksistensi Allah yang dikenal dengan sebutan Brahman sebagai ketiadaan murni. Sementara dalam agama Budha realitas Ilahi dikenal dan dipahami dengan sebutan “Ketiadaan dan Kekosongan”. Ketiadaanya Allah diakui sebagai suatu kebenaran dan dan bahkan ini merupakan rumusan iman yang objektif dan eksplisit bagi mereka. Dalam agama Islam memang Panikkar tidak mengatakannya secara langsung, tetapi kita juga dapat menemukan kebenaran yang berkaitan dengan iman dalam agama Islam. Umat Islam menyebutnya sebagai Allahu Akbar, Allah Mahabesar, Allah Yang Esa.
Dari beberapa pemahaman di atas tentang kebenaran, kita dapat melihat bahwa memang benar ada juga kebenaran dalam agama lain. Manakah di antara semua kebenaran itu yang paling benar? Bagi agama Islam kebenaran yang paling benar atau kebenaran absolut adalah bahwa Allah itu Esa, tiada Tuhan selain Allah. Atau bagi agama Hindu, Yang Ilahi itu diyakini sebagai Brahman atau ketiadaan murni. Penganut agama Kristen tidak boleh mengatakan bahwa pemahaman mereka itu salah. Yang benar adalah sebagaimana yang terungkap dalam trinitas, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Masing-masing agama tidak boleh melihat kebenaran dalam agama lain dengan menggunakan kacamata kebenarannya sendiri.
Dalam bukunya yang berjudul The Unknown Christ of Hindusm, Panikkar mengatakan bahwa kebenaran agama itu tidak bersifat singular, tetapi partikular karena bisa terdapat di dalam lebih dari satu agama dan penyingkapan kebenaran tersebut bisa menjadi insight timbal-balik bagi semua pihak. In these times of growth in which no people or civilization can shut itself off from the rest of the world[8]. Dari hal tersebut, sebenarnya Panikkar tidaklah bermaksud mengecilkan arti kebenaran itu. Yang ingin dikatakan sebenarnya adalah bahwa pengalaman-pengalaman partikular mengenai kebenaran dapat diperluas dan diperdalam sehingga bisa menyingkapkan berbagai pengalaman baru mengenai kebenaran, terutama menyangkut persoalan kebenaran Ilahi[9]. Hal senada juga pernah dikatakan John Hick other religions are equally valid ways to the same truth. Jadi tidak hanya ada satu kebenaran yang absolut dan universal, tetapi ada banyak kebenaran[10]. Panikkar percaya bahwa agama-agama lain juga mempunyai kebenaran sebagian dan sebagai pendahuluan serta ikut dalam kebenaran yang universal, mereka disebut sebagai “Anonymous Christian.” Ia percaya seorang dari agama Budha, Hindu, Islam adalah orang Kristen, walaupun mereka belum sempat datang secara aktual ke dalam Kekristenan, namun mereka tetap akan diselamatkan karena kebenaran Kristen ada di dalam agama-agama mereka. Panikkar percaya bahwa penyataan Allah ada di dalam semua agama dan Yesus Kristus hanyalah salah satu penyataan Allah yang juga ada di dalam agama-agama lain, di mana menyadari ada realitas ilahi. Oleh karena itu bagi Panikkar Yesus bukan Tuhan dan Juruselamat yang Final dan satu-satunya

Aturan Main dalam Perjumpaan Agama
Berhadapan degan pluralitas iman dan kebenaran-kebenaran partikular dalam berbagai agama, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya perjumpaan antar agama. Dan dalam perjumpaan itu tentu saja akan terjadi kontak dan relasi. Nah, agar dalam relasi tersebut tidak terjadi bentrok dan konflik maka dibutuhkanlah saling pengertian antara kedua belah pihak. Sikap saling pengertian itulah yang biasa disebut dialog. Seperti yang dikatakan Panikkar bahwa tujuan dialog adalah untuk membongkar pra-pemahaman atau a priori kita pada orang lain. Hence dialogue serves the useful purpose of laying bare our own assumptions and those of others, thereby giving us a more critically grounded conviction of what we hold to be true[11]. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa dialog bukanlah sekedar metodologi tetapi suatu bagian esensial tindakan religius “Par Excellence”: mencintai Allah melampaui segala hal dan mencintai sesama seperti diri sendiri. Dengan kata lain, dialog tidaklah pertama-tama berarti studi, kosultasi, pemeriksaan, pengajaran, pernyatan belajar, dan sebagainya. Dialog lebih pada mendegarkan dan mengobservasi; berbicara, megoreksi dan dikoreksi, di mana tujuannya adalah saling pengertian. Dalam dialog hubungan antaragama bukanlah hubungan “asimilasi”, atau hubungan substitusi melainkan hubungan “saling menyuburkan”[12].
Oleh karena itu untuk mencapai dialog yang sesungguhnya, Panikkar telah memberikan beberapa aturan main dalam berdialog, yaitu[13]:
a.       Harus bebas dari apologi khusus, artinya untuk berdialog, para peserta harus terbebas dari gagasan a priori.
b.      Harus bebas dari apologi umum yaitu pertobatan. Dialog tujuannya bukanlah untuk menobatkan orang lain tetapi dialog memang adalah suatu kebutuhan yang harus dilakukan berhadapan dengan pluralitas iman.
c.       Berani menghadapi tantangan pertobatan. Artinya dalam dialog, seorang harus berani mengambil risiko: kehilangan hidupnya atau dilahirkan kembali. Panikkar menganalogikannya dengan peziarah yang membuat jalannya sendiri yang belum terpetakan. Jalan yang di depannya masih perawan, belum dijamah. Peziarah itu pasti akan sangat senang karena melihat dua hal: indahnya penemuan pribadinya dan dalamnya harta abadi yang diperolehnya tetapi sekaligus dia harus berani menghadapi setiap kemungkinan yang akan dialaminya.
d.      Dimensi historis penting tetapi tidak mencukupi. Dialog sebaiknya tidak berhenti hanya pada perjumpaan para ahli, tetapi dialog harus hidup, dan harus menjadi medan untuk pemikiran kreatif dan jalan-jalan baru yang imajinatif, yang tidak memutuskan hubungan dengan masa lampau melainkan meneruskan dan mengembangkannya.
e.       Bukan sekedar kongres filsafat. Dialog bukanlah sekedar pertemuan para filsuf untuk membicarakan masalah-masalah intelektual mengenai agama.
f.       Bukan sekedar symposium teologis. Dialog bukanlah sekedar usaha untuk membuat orang lain mengerti maksud saya.
g.      Bukan sekedar ambisi pemuka agama. Dialog tidak hanya keinginan pemuka agama semata, tetapi harus sampai pada penganut-penganutnya.
h.      Perjumpaan agama dalam iman, harapan dan kasih. Sikap iman yang dimaksudkan adalah melampaui data sederhana dan juga perumusan dogmatis dari pengakuan yang berbeda-beda. Dengan harapan diharapkan agar sikap dialog melampaui segala harapan, dapat melompati tidak hanya hambatan awal kemanusiaan, kelemahan dan keterikatan-keterikatan yang tidak disadari tetapi juga melompati segala bentuk pandangan yang semata-mata duniawi, dan memasuki jantung dialog, seolah-olah didesak dari atas untuk menjalankan tugas yang suci. Dengan cinta yang dimaksudkan adalah gerak hati, kekuatan yang mendorong untuk sampai pada sesama dan yang membimbing untuk menemukan di dalam mereka apa yang kurang dalam diri kita.

Realitas Indonesia
Keanekaragaman adalah sesuatu yang tidak bisa disangkal di dunia ini. Ada  keragaman suku, agama, ras, bangsa, profesi, budaya dan golongan. Keanekaragaman itu di satu sisi bisa menjadi suatu kekayaan yang patut disyukuri, tetapi di sisi lain bisa juga menjadi sumber konflik, misalnya di Indonesia. Data menunjukkan bahwa di Indonesia, konflik yang bernuansa agama sangat sering kita jumpai. Misalnya kasus pembakaran gereja di Halmahera pada 14-15 Agustus 2002, konflik Poso pada Desember 2003, penyerangan terhadap Huriah Kristen Batak Protestan (HKPB) dan penyerangan terhadap rumah-rumah pengikut Ahmadiyah di Lombok pada September 2002[14].
Dalam laporan tahunan 2008 Program Studi Agama dan Lintas Budaya Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada dikatakan bahwa, kasus konflik keagamaan di seputar keberadaan rumah ibadah masih banyak terjadi pada tahun 2008. Dalam catatan riset mereka setidaknya terdapat 12 kasus yang menyangkut masalah keberadaan rumah ibadah sepanjang tahun 2008.
Fakta di atas sungguh sangat memprihatinkan dan sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin hal semacam itu bisa terjadi, sementara setiap agama telah mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada para pengikutnya. Dan lebih-lebih tidak masuk akal karena Undang-undang Dasar kita  telah menjamin kebebasan memeluk dan melaksanakan ajaran agama bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa masih ada konflik antar agama? Oleh karena itu menjadi pertanyaan besar bagi kita, sebenarnya letak permasalahnya di mana? Apakah agama tidak mampu memberikan penyadaran dan mengajarkan kebenaran yang sesungguhnya kepada para penganutnya? Ataukah hukum negara kita yang terlalu lemah seperti singa ompong yang kehilangan gigi?
Memang akhirnya mengatakan bahwa agama sebagai sumber kekerasan atau sumber konflik agaknya merupakan sebuah paradoks, karena pesan inti agama adalah perdamaian. Tapi, menolak keterkaitan itu sama sekali juga merupakan perbuatan naif, karena kita jelas-jelas melihat banyaknya fenomena pembunuhan, terorisme, dan perusakan yang mengatasnamakan agama[15].
Marilah kita melihat dengan cermat konflik-konflik di atas. Apakah dapat kita katakan bahwa  para pelaku kekerasan itulah yang sepenuhnya disalahkan? Bagi penulis sendiri tidak yakin bahwa kesalahan sepenuhnya berada di pihak mereka. Karena jika kita melihat dalam ajaran agama suatu agama, ternyata suatu agama tidak pernah akan terlepas dari suatu ajaran atau doktrin yang memiliki arti yang bisa dikatakan terlalu dalam sehingga tidak semua orang bisa mengertinya dengan tepat. Misalnya ajaran extra ecclesiam nulla salus, dalam Gereja Katolik. Ajaran atau semboyan ini, sebenarnya memiliki latar belakang historis yang sungguh khas dan tidak bisa langsung dijadikan sebagai dasar pembenaran terhadap tindakan untuk menghakimi penganut agama lain dalam konteks sekarang ini. Ataupun juga ajaran dan semboyan dalam suatu agama yang multitafsir. Dari sini kita dapat melihat bahwa ternyata dalam suatu agama pun terdapat suatu yang dapat menjadi dasar pembenaran bagi para pelaku kekerasan[16]. Hal ini juga sangat nampak misalnya yang dilakukan oleh para teroris di mana mereka membenarkan tidakan mereka untuk membunuh orang lain atas dasar agama.
Berhadapan dengan realitas tersebut, sekiranya baik jika kita kembali pada apa yang dikatakan oleh Panikkar bahwa dalam perjumpaan dengan orang beragama lain kita harus berani melepaskan keterikatan dogma dan rumusan kepercayaan yang bisa mengantar pada eksklusivisme agama dan ketertutupan yang radikal. Ketika suatu agama mengklaim bahwa agamanyalah yang paling benar, atau di luar agamanya tidak ada kebenaran atau keselamatan, dan akhirnya juga mengurusi urusan agama lain, maka yakinlah bahwa dialog tidak akan pernah ada.
Sebagai bahan refleksi bagi kita semua, sudah sejauh mana kita menempatkan dan memposisikan ideologi agama kita berhadapan dengan umat beragama lain? Sanggupkah kita dengan rendah hati meletakkan (untuk sementara) keyakinan akan kebenaran agama kita untuk duduk bersama-sama berdialog dengan agama lain? Mampukah kita melihat pluralitas itu bukan saja sebagai masalah, tetapi suatu berkat? Mampukah kita menerima persamaan dan perbedaan dengan serius dan tulus? Dan mampukah kita menjadikan perjumpaan pribadi kita dengan orang yang beragama lain itu sebagai suatu tindakan harapan untuk menacapai transformasi diri? Dialog yang sesungguhnya tidak akan melunturkan iman kita tetapi justru akan saling menguatkan.

Penutup
Menyakini bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang benar adalah baik, bahkan itu merupakan keharusan. Tetapi menjadi tidak baik ketika mengatakan bahwa agamakulah yang paling benar sementara agama orang lain salah. Apalagi ketika ingin melakukan tindakan langsung untuk memaksakan kebenaran yang diyakini itu kepada orang lain dengan melakukan aksi kekerasan. Ingatlah bahwa Yang Satu (Tuhan) itu bisa dipahami dan diyakini dengan berbagai cara dan itu semua adalah ”jalan” yang benar menuju hakikat yang Absolut.
Cornelius Timang
Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti

Daftar Pustaka
Cantwell S. W.,
1975, “A Human View of Thruth”, dalam John Hick (ed), Thruth and Dialogue: The Relationships between world religions, London: Sheldon Press.
Coward, H.,
 1989, Pluralisme, tantangan bagi agama-agama, Yogyakarta, Kanisius.
Kanisius L.S.,
2006, Allah dan Pluralisme Religius, Menelaah Gagasan Raimundo Panikkar, Yogyakarta, Kanisius.
Muawiyah R.A.(ed),
2006, Demi ayat TUhan, Upaya KPPSI menegakkan Syariat Islam, Jakarta, OPSI.
Panikkar, R.,
1999, The Intra-Religious Dialogue, New York, Paulist Press.
1973, The Trinity and The Religious Experience of Man, Orbis Books, Maryknoll, New York,
1968, The Unknown Christ of Hinduism, Orbis Books, Maryknoll, New York.
Prabhu, J.,
2006, The Intercultural Challenge of Raimon Pannikar, dalam Silvester Kanisius L. Allah dan Pluralisme Religius, menelaah Gagasan Raimundo Panikkar, Jakarta, Obor.
Sudarminta, SJ,
Setia Pada Kebenaran, Sumbangan Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, pidato yang disampaikan saat pengukuhannya sebagai guru besar Filsafat di STF Driyakara, Jakarta, 12 Mei 2007.
Sudiarja A. (ed),
1994, Dialog Intra-religius, Yogyakarta, Kanisius.
www.google.com.


Catatan akhir:


[1]Joseph Prabhu, The Intercultural Challenge of Raimon Pannikar, dalam Silvester Kanisius L., Allah dan Pluralisme Religius, menelaah Gagasan Raimundo Panikkar, Jakarta, Obor, 2006, 3.
[2]Raimond Panikkar, The Intra-Religious Dialogue, New York, Paulist Press, 1999, 42.
[3] Sudarminta, SJ, Setia Pada Kebenaran, Sumbangan Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, pidato yang disampaikan saat pengukuhannya sebagai guru besar Filsafat di STF Driyakara, Jakarta, 12 Mei 2007.
[4] Wilfred Cantwell Smith, “A Human View of Thruth”,  dalam John Hick (ed), Thruth and Dialogue: The Relationships between world religions, London: Sheldon Press, 1975, 20.
[5] Silvester Kanisius L., Allah dan Pluralisme Religius, Menelaah Gagasan Raimundo Panikkar, Yogyakarta, Kanisius, 2006, 20.
[6] Raimond Panikkar, The Intra-Religious Dialogue, 5.
[7] Raimond Panikkar, The Trinity and The Religious Experience of Man, Orbis Books, Maryknoll, New York, 1973, 44.
[8] Raimond Panikkar, The Unknown Christ of Hinduism, Orbis Books, Maryknoll, New York, 1968, 9.
[9] Raimond Panikkar, The Unknown Christ of Hinduism, Orbis Books, Maryknoll, New York, 1968, 121, dalam Silvester Kanisius L., Allah dan Pluralisme Religius, Menelaah Gagasan Raimundo Panikkar, 21.
[10] Silvester Kanisius L., Allah dan Pluralisme Religius, Menelaah Gagasan Raimundo Panikkar, 22.
[11] Raimond Panikkar, The Intra-Religious Dialogue, 48.
[12] Harold Coward, Pluralisme, tantangan bagi agama-agama, Yogyakarta, Kanisius, 1989, 79.
[13] A. Sudiarja (ed), Dialog Intra-religius, Yogyakarta, Kanisius, 1994, 64-74.
[14] Adian Husaini, “Agama Sumber Kekerasan?”, www.google.com. Akses 21 Novemver 2009.
[15] Luthfi Assyaukanie, “Agama Sebagai Sumber Kekerasan”, www.google.com. Akses 21 November 2009
[16] Andi Muawiyah Ramly (ed), Demi ayat TUhan, Upaya KPPSI menegakkan Syariat Islam, Jakarta, OPSI, 2006, 23.