Rosario dalam penghayatan iman katolik
Doa Rosario adalah salah satu bentuk doa devosi yang sangat hidup di tengah umat. Banyak umat yang merasa cocok dengan doa Rosario. Banyak permohonan yang terkabulkan karena doa Rosario. Bahkan banyak orang pula yang merasa mantap dan percaya diri hanya dengan menggunakan Rosario. Namun, kadang-kadang Rosario dipahami secara mistis. Maka sering muncul kata-kata ini: “Yang penting pake Rosario, pasti aman”. “Asalkan mendaraskan doa-doa Salam Maria pada puluhan-puluhan Rosario, semuanya akan beres”.
Terlepas dari itu semua, doa Rosario tetap menjadi kekayaan dalam khasana doa Gereja Katolik. Doa Rosario sungguh dapat membawa umat sampai pada Kristus. Mengapa Doa Rosario menjadi begitu populer di tengah umat? Lalu, di mana posisi Maria dalam penghayatan iman kita?
Rosario: Sederhana namun Sarat Makna
Rosario merupakan salah satu bentuk devosi kepada Bunda Maria. Secara harafiah “Rosario”, berarti taman bunga mawar. Dengan mendoakan Rosario, ibaratnya kita menghamparkan karangan bunga mawar di hadapan Bunda Maria.
Ada 2 tradisi asal-usul munculnya Rosario. Pertama berasal dari tradisi St. Dominikus pada abad XII. Konon Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan memberikan Rosario serta memintanya untuk mendoakan dan mewartakan Rosario ini. Kedua, berasal dari tradisi para rahib. Pada abad XII banyak umat yang terpanggil menjadi biarawan-biarawati, namun banyak di antara mereka yang tidak bisa membaca. Oleh karena itu mereka tidak bisa mengikuti pendarasan mazmur dalam ibadat harian sebagaimana yang didokan oleh para rahib. Sebagai gantinya, mereka mendaraskan 150 Bapa Kami sejumlah mazmur yang didoakan dalam ibadat harian tersebut. Agar tidak keliru dalam menghitung jumlah Bapa Kami yang didoakan, maka digunakanlah manik-manik. Seiring dengan itu, devosi umat kepada Bunda Maria juga berkembang dengan suburnya. Kebiasaan mendoakan Bapa Kami dengan manik-manik itu bergeser kepada doa Salam Maria. Seiring berjalannya waktu, akhirnya berkembanglah Rosario sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
Berkembangnya devosi umat yang subur terhadap Bunda Maria tidak terlepas dari situasi Gereja saat itu. Pada pra-Konsili Vatikan II (1962-1965), situasi Gereja sangat sentralistis dan peran para pemimpin Gereja sangat ditekankan. Liturgi pun masih menggunakan bahasa Latin yang tentu saja tidak mengerti oleh sebagian besar umat. Karena tidak mengerti bahasa Latin, maka untuk mengisi kekosongan dalam Perayaan Ekaristi, mereka pun mendoakan doa Rosario. Hanya ketika konsekrasi, umat berhenti sebentar dari doa Rosario mereka dan menghadap ke altar. Namun setelah itu, mereka melanjutkan Rosario lagi. Hal ini dapat dimaklumi karena memang doa Rosario ini merupakan doa yang sangat sederhana dan mudah diingat. Umat yang tidak berpendidikan pun bisa mendoakannya.
Kendatipun sederhana, doa Rosario sarat akan makna. Doa rosario ternyata sungguh mengungkapkan misteri keselamatan. Jika diperhatikan, sebenarnya peristiwa-peristiwa yang direnungkan dalam doa rosario sungguh sangat biblis. Bahkan dapat dikatakan keseluruhan iman Kristiani direnungkan dalam doa rosario ini. Dan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa rosario adalah suatu ringkasan dari keseluruhan Injil, sebagaimana diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II. Misalnya doa Bapa Kami yang didaraskan dalam doa Rosario ini dikutip dari Mat. 6:9-13. Demikian juga dengan doa Salam Maria, yang diambil dari Luk. 1:28; Luk. 1:42; Luk. 1:43-45. Selain itu seluruh peristiwa yang direnungkan ada di dalam Kitab Suci, mulai dari peristiwa Gembira, Sedih, Mulia dan kemudian ditambahkan dengan peristiwa Terang. Ini dari sisi biblis. Bagaimana jika dilihat dari sisi dokumen Gereja. Ternyata juga dapat dikatakan bahwa Rosario telah merangkum keseluruhan ajaran iman Gereja yang tertulis dalam dokumen Gereja misalnya Lumen Gentium (lih. LG. 52-69). Dan bahkan ajaran resmi Gereja tentang dogma-dogma ternyata dijabarkan dalam peristiwa-peristiwa Rosario tersebut.
Dari segi historis, biblis dan teologis, sudah sangat jelas mengapa kita mendoakan Rosario. Secara khusus kita akan melihat, mengapa kita mesti memberikan penghormatan yang tinggi kepada Maria? Dari keseluruhan hidup Yesus, kita dapat melihat bahwa betapa Dia menghormati IbuNya. Dan hal yang paling nampak ketika Maria dan Yohanes berada di bawah salib dan Yesus meminta Yohanes untuk menghormati Maria sebagai Ibu mereka. Di sini sangat jelaslah betapa Yesus sangat mengharapkan agar Gereja (yang diwakili oleh Yohanes) menghormati Maria. Pertanyaan reflektif bagi kita: Yesus saja memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Maria, mengapa kita tidak? Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghormati Maria.
Maria: Peran dan Posisinya dalam Iman
Namun ada ekstrim yang lain. Karena terlalu terpesona dengan pribadi Maria, maka kadang-kadang Maria dianggap sebagai satu-satunya penyelamat. Karena itu, tidak jarang muncul pertanyaan, di manakah posisi Maria dalam penghayatan iman kita? Apakah Maria yang menyelamatkan, atau Yesus? Apakah kita berdoa kepada Yesus atau kepada Maria?
Dalam penghayatan iman kita, tentu saja Maria bukanlah tujuan doa kita. Tujuan doa dan iman kita adalah Yesus satu-satunya. Ketika kita berdoa kepada Maria, pertanyaanya di mana posisi Yesus? Seakan-akan peran Yesus sebagai Penyelamat diabaikan karena tergantikan oleh Maria. Seharusnya, ukapan kebaktian kepada Maria melalui doa Rosario harus selalu dilihat dalam kacamata kristologi. Artinya, yang menjadi pusat adalah kristologi bukan mariologi. Karena penghayatan kita akan Yesus sebagai Kristus, maka muncullah Mariologi. Karena iman kita akan Kristus, maka kita menghormati Maria sebagai Ibu Kristus. Memang keistimewaan Maria melebihi segala makhluk yang ada di bumi bahkan melebihi malaikat di surga (LG. 66), sehingga pantas kalau dia dihormati dalam kebaktian yang istimewa. Namun HARUS tidak menggantikan kebaktian utama kepada Allah (bdk. Luk. 1:48-49). Maka kebiasaan berdoa Rosario pada saat perayaan ekaristi berlangsung, sebenarnya kurang tepat. Karena bagaimana pun ekaristi adalah puncak iman iman.
Kita menghormati Maria, tidak lain adalah karena dia adalah Ibu Tuhan. Karena kesediaanya menjadi menjawab “Ya” terhadap tawaran Malaikat untuk menjadi bunda Tuhan. Dan jawaban “Ya” Maria ini mempunyai konsekuensi yang sangat berarti bagi iman kita. Karena kesediaannyalah, maka Allah menjadi Manusia. Dan itu berarti terjadilah keselamatan umat manusia. Jadi peran Maria dalam karya keselamatan menjadi sangat penting. Namun harus diingat, Maria hanya TURUT serta dalam karya keselamatan, bukan sebagai Penyelamat itu sendiri.
Dalam tataran keanggotaan Gereja, sebenarnya Maria juga termasuk didalamnya. Maria adalah anggota Gereja sama seperti kita, namun dia adalah anggota Gereja yang unggul. Keunggulannya, tidak lain terletak pada kerelaanya menjadi Ibu Tuhan. Selain anggota Gereja yang unggul, dia juga menjadi Ibu Gereja (bdk. LG.61). Hal itu sangat jelas digambarkan ketika Maria berada dibawah kaki salib, di mana Maria dilantik oleh Yesus sebagai Ibu Gereja dengan berkata, “Inilah Ibumu” kepada Yohanes murid-Nya (Yoh. 19:25-27). Karena pengangkatan yang istimewa dan kedekatannya dengan Yesus serta teladan kerendahan hatinya dalam iman, maka sungguh pantaslah jika kita memberikan penghormatan yang khusus kepadanya. Karena itu, kita datang pada Maria, berdoa bersama-sama dan memohon kepada Yesus Sang Pengantara kita untuk sampai pada Allah. Atau dengan kata lain, kita mengetuk hati Tuhan bersama bersama Maria.
Akhirnya peran Maria dalam penghayatan iman kita dapat diringkas menjadi “5 M”. Yaitu: Mother (ibu), Messanger (pembawa berita), Mediatrix (perantara), Model (contoh/teladan), dan Member (anggota). Maria dihormati oleh seluruh Gereja karena dia adalah Ibu Tuhan yang membawa Yesus Sang Penyelamat ke dalam dunia melalui peristiwa inkarnasi. Karena itu, dia menjadi media perantara kita. Maria bersama dengan kita berdoa kepada kepada Yesus Sang Pengantara untuk sampai pada Allah. Kesediaannya menerima tugas yang amat berat namun mulia itu, sungguh cocok dijadikan sebagai teladan dan contoh dalam semangat penyerahan diri. Kendatipun demikian dia masih tetap sebagai anggota Gereja.
Semoga, kebaktian dan devosi yang selama ini sudah hidup di tengah umat, semakin hidup. Dan semoga kita menyadari bahwa kehadiran Maria dalam penghayatan iman kita orang Katolik, merupakan kekayaan yang tak ternilai. Maria akan selalu bersama dalam doa-doa kita, sekarang dan selamanya.
(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah UTUSAN edisi Oktober 2011)
Fr. Cornelius Timang
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Teolog, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar