Jumat, 18 November 2011

Pengalamanku II

7 kali jatuh
Hari masih pagi. Matahari belum menampakkan dirinya diufuk Timur. Kabut berwarna putih menutupi pandangan mata. Udara sangat dingin menusuk tulang. Kupaksakan diriku menuju garasi untuk memanaskan motor tuaku. Sekali-dua kali motor GL Max keluaran tahun 89 itu kustater namun belum juga berbunyi. Aku mencoba lagi dengan terlebih dahulu menstater tanpa mengontak kuncinya, namun juga belum berhasil. “Ritual” pemanasan motor sampai berkali-kali seperti ini sebenarnya sering aku lakukan. Maklumlah motor dinas yang dipercayakan kepadaku itu sudah cukup tua bahkan sudah hampir seumuran denganku. Dengan berjuang keras akhirnya motor itu bisa berbunyi. Lumayan, bisa menjadi olah raga pagi-pagi untuk mengusir rasa dingin, pikirku dalam hati.
Hari itu aku bersama dengan pastor parokiku akan mengadakan kunjugan pastoral ke stasi Mongsia. Stasi Mongsia adalah stasi paling jauh yang berada dalam wilayah teritorial Paroki Kristus Imam Agung Abadi Sangalla’ Tana Toraja, paroki di mana aku ditugaskan untuk menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Jarak dari pastoran ke stasi tersebut sangatlah jauh dengan medan yang sangat berat. Dulu, stasi tersebut hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki 3-4 jam, tetapi syukurlah sekarang sudah bisa dijangkau dengan sepeda motor. Kendatipun sudah bisa dijangkau dengan sepeda motor, tetapi tantangan untuk sampai ke stasi tersebut tetap saja berat, karena jalan yang akan dilalui motor tersebut masih merupakan jalan rintisan. Sepanjang perjalanan sejauh puluhan kilometer, aku tidak pernah merasakan adanya jalan yang tidak bergelombang dengan aspal yang mulus. Jangankan jalan beraspal, jalan berkerikil yang halus pun akan jarang ditemui. Karena jauhnya, stasi ini hanya mendapatkan kunjungan pastoral 2-3 kali setahun, itu berarti umat di stasi tersebut sangat jarang merayakan ekaristi dan menyambut tubuh Kristus.

Harus Tahan Banting
Pagi itu semua perlengkapan sudah siap. Helm, Jaket kulit yang tebal, mantol hujan, celana jeans, dan tidak lupa sepatu boat untuk melindungi kaki dari jalan berlumpur, semuanya harus dipakai, demi keamanan dan keselamatan. Aku bersama dengan pastor parokiku pun berangkat ke stasi Mongsia. Ini adalah perjalanan pertamaku ke stasi. Aku harus bisa melalui perjalanan ini dengan baik, pikirku dalam hati.
Setapak demi setapak jalan berbatu-batu itu aku lalui. Sesekali aku harus menurunkan kakiku dari atas motor untuk menahan kalau-kalau motorku jatuh. Badanku harus pandai-pandai mengikuti arah motor yang tiba-tiba berbelok karena ada gundukan batu ataupun tergelincir karena licinnya jalan. Bahuku pun harus kuat menahan bantingan stir motor yang kadang berbelok ke kiri maupun ke kanan bahkan terangkat secara tiba-tiba. Jari-jari tanganku harus dengan lihai menarik rem dan kopling pada saat yang tepat. Dan mataku pun harus dengan cermat memilih jalan yang agak lebih baik untuk dilalui oleh motor.
Namun pada suatu pendakian yang sangat curam, tiba-tiba motorku berhenti. Aku menurunkan kedua kakiku dan dengan cekatan menarik rem depan. Tetapi sial, ternyata tali rem depannya putus. Motorku pun langsung mundur dengan perlahan padahal puncak pendakian tersebut masih jauh. Aku jadi panik. Ku coba kembali menyeimbangkan badan dan menahan beratnya motor tetapi tidak berhasil. Motor terbanting ke tanah, aku pun ikut jatuh. Syukurlah aku tidak tertindih oleh motor dan tidak jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Tetapi kakiku terkilir oleh sebuah batu pembatas jalan.
Sementara merintih kesakitan, aku melihat sekitarku dan mencoba mencari bantuan ternyata tidak seorang pun yang ada di sekitar situ. Aku juga mencari-cari di mana pastor berada, ternyata dia sudah berada jauh di depanku, walaupun aku berteriak toh dia pasti tidak mungkin mendegar teriakanku. Aku pun berusaha bangun kembali. Aku mencoba mengangkat motor yang sudah berada di bibir jurang itu. Sambil menarik rem, aku pun berusah membunyikan motor lagi. Syukurlah motor itu masih bisa berbunyi. Aku pun melanjutkan perjalananku.
Kali ini aku lebih berhati-hati. Motor pun aku jalankan dengan lebih lambat. Alon-alon asal klakon, pikirku dalam hati. Namun ternyata prinsip itu tidak berhasil menghadapi medan yang berat. Aku sudah berhati-hati dan laju motor pun aku kurangi, ternyata aku masih saja jatuh. Pada suatu penurunan yang sangat terjal, aku berusaha menarik rem tangan dan kaki, ternyata motor tidak berhenti juga. Justru jalannya bertambah laju. Aku hanya pasrah saja. Aku mencoba mengikuti arah jalan yang terjal itu, dan berusaha mencari cara bagaimana agar motor itu bisa berhenti karena di samping kiri dan kanan semuanya jurang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengarahkan motor itu ke dalam sebuah semak-semak yang ada di depanku, tepat pada sebuah tikungan tajam. Akhirnya motor itu behenti, namun aku terbanting jauh ke depan. Syukurlah aku masih bisa selamat.
Aku berusaha bangkit lagi dan mencoba melanjutkan perjalananku sementara itu hari sudah semakin siang. Jarum jam ku sudah menunjukkan pukul 9, padahal kami harus mengadakan misa di stasi pada pukul 9 pagi. Bukan lagi biar lambat asal selamat, tetapi harus cepat dan tepat, itulah prinsipku sekarang. Aku pun mulai menjalankan motorku lagi. Pada jalan yang agak baik, aku menarik gas tinggi-tinggi, namun ketika jalan jelek dan berbahaya, aku menurunkan gas. Cara ini pun tidak berhasil. Aku toh masih jatuh bahkan masih 5 kali. Setelah berkali-kali jatuh, akhirnya aku bisa sampai dengan selamat kendatipun harus jatuh sampai 7 kali. Sungguh-sungguh suatu perjalanan yang sangat mengesankan sekaligus menegangkan.

Remah-Remah
Pengalaman terjatuh sampai 7 kali ini sungguh memberikan suatu nilai tersendiri bagiku. Aku tidak tahu apakah jumlah ini terjadi secara kebetulan saja. Tetapi bagi ku, angka  7 itu memiliki makna tersendiri. Sebagaima dalam tradisi biblis, angka 7 merupakan angka sempurna, pun juga dengan pengalaman kejatuhanku sampai 7 kali. Mungkin pengalamanku ini bisa disebut sebagai pengalaman jatuh yang sempurna. Bagiku, pengalaman terjatuh namun bisa bangkit kembali itulah yang menjadikan pengalamanku ini menjadi pengalaman jatuh yang sempurna. Setiap orang pasti pernah jatuh, namun tidak setiap orang yang mampu bangkit kembali. Justru ketika kita terjatuh namun bangkit kembali menjadikan sebuah perjalanan hidup kita menjadi semakin berkesan. Aku terjatuh bahkan sampai 7 kali dalam perjalanan ke Mongsia, justru membuatnya menjadi pengalaman tak terlupakan. Ketika aku jatuh, aku harus mampu bangkit kembali.
Pengalaman jatuhku itu menyadarkan aku lagi bahwa memang aku harus mampu tahan banting. Mental yang kuat sangat dibutuhkan dalam medan yang berat. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Mgr. Piet Timang bahwa spritialitas para imam dan calon imam praja harus berspiritualitas Ayam Kampung. Artinya para imam dan calon imam harus mampu mengais, bekerja keras, dan lebih dari itu harus tahan banting.
Selain kerja keras, satu hal yang juga aku petik dari pengalaman tersebut adalah bahwa bagaimanapun, doa harus berada di atas segalanya. Bisa saja aku bekerja dengan giat, bersemangat dalam pelayanan, dan rajin mengunjungi umat tanpa kenal lelah, namun tanpa doa semuanya tidak akan berarti. Justru kemantapan hidup doa akan diuji ketika kita sudah terjun ke lapangan. Hidup doa yang mantap justru akan terbukti dalam kesibukan kehidupan sehari-hari namun masih meluangkan waktu untuk berdoa dan bermenung.

(Tulisan ini dikirim ke majalah DIALOG)
Fr. Cornelius Timang
TOPer Paroki KIAA Sangalla’

Rohani

Rosario dalam penghayatan iman katolik
 

Doa Rosario adalah salah satu bentuk doa devosi yang sangat hidup di tengah umat. Banyak umat yang merasa cocok dengan doa Rosario. Banyak permohonan yang terkabulkan karena doa Rosario. Bahkan banyak orang pula yang merasa mantap dan percaya diri hanya dengan menggunakan Rosario. Namun, kadang-kadang Rosario dipahami secara mistis. Maka sering muncul kata-kata ini: “Yang penting pake Rosario, pasti aman”. “Asalkan mendaraskan doa-doa Salam Maria pada puluhan-puluhan Rosario, semuanya akan beres”.
Terlepas dari itu semua, doa Rosario tetap menjadi kekayaan dalam khasana doa Gereja Katolik. Doa Rosario sungguh dapat membawa umat sampai pada Kristus. Mengapa Doa Rosario menjadi begitu populer di tengah umat? Lalu, di mana posisi Maria dalam penghayatan iman kita?

Rosario: Sederhana namun Sarat Makna
Rosario merupakan salah satu bentuk devosi kepada Bunda Maria. Secara harafiah “Rosario”, berarti taman bunga mawar. Dengan mendoakan Rosario, ibaratnya kita menghamparkan karangan bunga mawar di hadapan Bunda Maria.
Ada 2 tradisi asal-usul munculnya Rosario. Pertama berasal dari tradisi St. Dominikus pada abad XII. Konon Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan memberikan Rosario serta memintanya untuk mendoakan dan mewartakan Rosario ini. Kedua, berasal dari tradisi para rahib. Pada abad XII banyak umat yang terpanggil menjadi biarawan-biarawati, namun banyak di antara mereka yang tidak bisa membaca. Oleh karena itu mereka tidak bisa mengikuti pendarasan mazmur dalam ibadat harian sebagaimana yang didokan oleh para rahib. Sebagai gantinya, mereka mendaraskan 150 Bapa Kami sejumlah mazmur yang didoakan dalam ibadat harian tersebut. Agar tidak keliru dalam menghitung jumlah Bapa Kami yang didoakan, maka digunakanlah manik-manik. Seiring dengan itu, devosi umat kepada Bunda Maria juga berkembang dengan suburnya. Kebiasaan mendoakan Bapa Kami dengan manik-manik itu bergeser kepada doa Salam Maria. Seiring berjalannya waktu, akhirnya berkembanglah Rosario sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
Berkembangnya devosi umat yang subur terhadap Bunda Maria tidak terlepas dari situasi Gereja saat itu. Pada pra-Konsili Vatikan II (1962-1965), situasi Gereja sangat sentralistis dan peran para pemimpin Gereja sangat ditekankan. Liturgi pun masih menggunakan bahasa Latin yang tentu saja tidak mengerti oleh sebagian besar umat.  Karena tidak mengerti bahasa Latin, maka untuk mengisi kekosongan dalam Perayaan Ekaristi, mereka pun mendoakan doa Rosario. Hanya ketika konsekrasi, umat berhenti sebentar dari doa Rosario mereka dan menghadap ke altar. Namun setelah itu, mereka melanjutkan Rosario lagi. Hal ini dapat dimaklumi karena memang doa Rosario ini merupakan doa yang sangat sederhana dan mudah diingat. Umat yang tidak berpendidikan pun bisa mendoakannya.
Kendatipun sederhana, doa Rosario sarat akan makna. Doa rosario ternyata sungguh mengungkapkan misteri keselamatan. Jika diperhatikan, sebenarnya peristiwa-peristiwa yang direnungkan dalam doa rosario sungguh sangat biblis. Bahkan dapat dikatakan keseluruhan iman Kristiani direnungkan dalam doa rosario ini. Dan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa rosario adalah suatu ringkasan dari keseluruhan Injil, sebagaimana diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II. Misalnya doa Bapa Kami yang didaraskan dalam doa Rosario ini dikutip dari Mat. 6:9-13. Demikian juga dengan doa Salam Maria, yang diambil dari Luk. 1:28; Luk. 1:42; Luk. 1:43-45. Selain itu seluruh peristiwa yang direnungkan ada di dalam Kitab Suci, mulai dari peristiwa Gembira, Sedih, Mulia dan kemudian ditambahkan dengan peristiwa Terang. Ini dari sisi biblis. Bagaimana jika dilihat dari sisi dokumen Gereja. Ternyata juga dapat dikatakan bahwa Rosario telah merangkum keseluruhan ajaran iman Gereja yang tertulis dalam dokumen Gereja misalnya Lumen Gentium (lih. LG. 52-69). Dan bahkan ajaran resmi Gereja tentang dogma-dogma  ternyata dijabarkan dalam peristiwa-peristiwa Rosario tersebut.
Dari segi historis, biblis dan teologis, sudah sangat jelas mengapa kita mendoakan Rosario. Secara khusus kita akan melihat, mengapa kita mesti memberikan penghormatan yang tinggi kepada Maria? Dari keseluruhan hidup Yesus, kita dapat melihat bahwa betapa Dia menghormati IbuNya. Dan hal yang paling nampak ketika Maria dan Yohanes berada di bawah salib dan Yesus meminta Yohanes untuk menghormati Maria sebagai Ibu mereka. Di sini sangat jelaslah betapa Yesus sangat mengharapkan agar Gereja (yang diwakili oleh Yohanes) menghormati Maria. Pertanyaan reflektif bagi kita: Yesus saja memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Maria, mengapa kita tidak? Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghormati Maria.

Maria: Peran dan Posisinya dalam Iman
Namun ada ekstrim yang lain. Karena terlalu terpesona dengan pribadi Maria, maka kadang-kadang Maria dianggap sebagai satu-satunya penyelamat. Karena itu, tidak jarang muncul pertanyaan, di manakah posisi Maria dalam penghayatan iman kita? Apakah Maria yang menyelamatkan, atau Yesus? Apakah kita berdoa kepada Yesus atau kepada Maria?
Dalam penghayatan iman kita, tentu saja Maria bukanlah tujuan doa kita. Tujuan doa dan iman kita adalah Yesus satu-satunya. Ketika kita berdoa kepada Maria, pertanyaanya di mana posisi Yesus? Seakan-akan peran Yesus sebagai Penyelamat diabaikan karena tergantikan oleh Maria. Seharusnya, ukapan kebaktian kepada Maria melalui doa Rosario harus selalu dilihat dalam kacamata kristologi. Artinya, yang menjadi pusat adalah kristologi bukan mariologi. Karena penghayatan kita akan Yesus sebagai Kristus, maka muncullah Mariologi. Karena iman kita akan Kristus, maka kita menghormati Maria sebagai Ibu Kristus. Memang keistimewaan Maria melebihi segala makhluk yang ada di bumi bahkan melebihi malaikat di surga (LG. 66), sehingga pantas kalau dia dihormati dalam kebaktian yang istimewa. Namun HARUS tidak menggantikan kebaktian utama kepada Allah (bdk. Luk. 1:48-49). Maka kebiasaan berdoa Rosario pada saat perayaan ekaristi berlangsung, sebenarnya kurang tepat. Karena bagaimana pun ekaristi adalah puncak iman iman.
Kita menghormati Maria, tidak lain adalah karena dia adalah Ibu Tuhan. Karena kesediaanya menjadi menjawab “Ya” terhadap tawaran Malaikat untuk menjadi bunda Tuhan. Dan jawaban “Ya” Maria ini mempunyai konsekuensi yang sangat berarti bagi iman kita. Karena kesediaannyalah, maka Allah menjadi Manusia. Dan itu berarti terjadilah keselamatan umat manusia. Jadi peran Maria dalam karya keselamatan menjadi sangat penting. Namun harus diingat, Maria hanya TURUT serta dalam karya keselamatan, bukan sebagai Penyelamat itu sendiri.
Dalam tataran keanggotaan Gereja, sebenarnya Maria juga termasuk didalamnya. Maria adalah anggota Gereja sama seperti kita, namun dia adalah anggota Gereja yang unggul.  Keunggulannya, tidak lain terletak pada kerelaanya menjadi Ibu Tuhan. Selain anggota Gereja yang unggul, dia juga menjadi Ibu Gereja (bdk. LG.61). Hal itu sangat jelas digambarkan ketika Maria berada dibawah kaki salib, di mana Maria dilantik oleh Yesus sebagai Ibu Gereja dengan berkata, “Inilah Ibumu” kepada Yohanes murid-Nya (Yoh. 19:25-27). Karena pengangkatan yang istimewa dan kedekatannya dengan Yesus serta teladan kerendahan hatinya dalam iman, maka sungguh pantaslah jika kita memberikan penghormatan yang khusus kepadanya. Karena itu, kita datang pada Maria, berdoa bersama-sama dan memohon kepada Yesus Sang Pengantara kita untuk sampai pada Allah.  Atau dengan kata lain, kita mengetuk hati Tuhan bersama bersama Maria.
Akhirnya peran Maria dalam penghayatan iman kita dapat diringkas menjadi “5 M”. Yaitu: Mother (ibu), Messanger (pembawa berita), Mediatrix (perantara), Model (contoh/teladan), dan Member (anggota). Maria dihormati oleh seluruh Gereja karena dia adalah Ibu Tuhan yang membawa Yesus Sang Penyelamat ke dalam dunia melalui peristiwa inkarnasi. Karena itu, dia menjadi media perantara kita. Maria bersama dengan kita berdoa kepada kepada Yesus Sang Pengantara untuk sampai pada Allah. Kesediaannya menerima tugas yang amat berat namun mulia itu, sungguh cocok dijadikan sebagai teladan dan contoh dalam semangat penyerahan diri. Kendatipun demikian dia masih tetap sebagai anggota Gereja.
Semoga, kebaktian dan devosi yang selama ini sudah hidup di tengah umat, semakin hidup. Dan semoga kita menyadari bahwa kehadiran Maria dalam penghayatan iman kita orang Katolik, merupakan kekayaan yang tak ternilai. Maria akan selalu bersama dalam doa-doa kita, sekarang dan selamanya.

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah UTUSAN edisi Oktober 2011)
Fr. Cornelius Timang
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Teolog, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Imamat II

Menanti Imam Dambaan Umat dari Anging Mammiri

Mendengar kata retret, kebanyakan orang pasti akan langsung membayangkan suatu suasana penuh keheningan, silentium, tanpa senyuman, pokoknya semuanya serba menegangkan. Memahami retret seperti ini pasti akan membuat orang takut dan tidak tertarik mengikutinya. Namun berbeda jika retret itu dipahami sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan paksaan dan bukan sebuah kewajiban. Retret adalah waktu berlibur bersama Yesus. Artinya, retret sungguh menjadi saat yang menggembirakan bersama Yesus. Saat yang penuh kasih antara diri kita dengan Yesus.

Retret dengan Prinsip MTB
Para Frater Seminarium Anging Mammiri, calon imam praja dari Keuskupan Agung Makassar (KAMS) juga mengadakan retret, liburan bersama Yesus selama 5 hari, 17-21 Juni 2011 di Wisma Pojok, Yogyakarta. Liburan bersama Yesus ini dipandu oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF, Uskup Emeritus Banjarmasin dengan mengambil tema Berlibur Bersama Yesus, Agar Lebih Mengenal Yesus dan MencintaiNya.
Pada sesion awal, Mgr. Praja memang sudah menegaskan bahwa retret ini harus dipahami sebagai liburan bersama Yesus. “Setelah satu tahun menggeluti kuliah di kampus, sekarang saatnya kita berlibur bersama Yesus. Jadikan retret ini sebagai saat yang menyenangkan bagi Anda. Karena itu pegang prinsip MTB: Makan kenyang, Tidur nyenyak, dan Berdoa banyak. Selain itu, retret bukanlah seminar rohani. Retret adalah saat intim bersama dengan Yesus”, demikian katanya.
Dalam retret ini para frater diajak untuk merenungkan makna luhur di balik panggilan menjadi imam. Mgr. Praja mengatakan bahwa panggilan menjadi imam adalah suatu panggilan yang sangat luhur dan mulia. “Saya berani mengatakan bahwa panggilan yang paling luhur dan mulia adalah panggilan menjadi imam. Karena hanya imamlah yang bisa merubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus. Betapa luhurnya panggilan itu, sehingga tidak ada alasan bagi Anda untuk tidak mensyukuri panggilan ini. Anda harus bersyukur bahwa Anda dipanggil oleh Tuhan untuk menjalani panggilan khusus ini. Anda bukanlah orang sembarangan. Anda adalah orang pilihan”, demikian beliau membakar semangat panggilan para frater. Beliau menambahkan bahwa untuk bisa bersyukur, pertama-tama harus ada rasa cinta dalam diri kita. Tuhan begitu mencintai kita, bukan pertama-tama karena kita baik, saleh, atau karena kita hebat, tetapi Tuhan mencintai kita karena kita adalah anakNya. Jadi, Tuhan itu sungguh mencintai kita sebagai anakNya, karena itu kita harus selalu beryukur dan bergembira. “Jadi imam itu harus S2. Kalian tahu to S2? S2 berarti Suka Senyum. Tetapi jangan S3, karena S3 berarti Suka Senyum Sendiri”, kata Mgr. Praja dengan senyumannya yang khas diikuti oleh gelak tawa para frater.

Menjadi Imam yang DRS
Mgr. Praja begitu terang-terangan mengupas profil imam dambaan umat sekarang ini. Beliau melihat bahwa para imam dewasa ini kadang terlalu banyak menuntut dari umatnya. Padahal mereka tidak tahu betapa umat juga sebenarnya punya hak. Paling kurang ada 2 hak umat yang harus diperhatikan oleh para imam. Pertama, umat berhak mendapatkan suri teladan hidup dari sikap dan perilaku imamnya. Kedua, umat berhak mendapat pelayanan pastoral yang sepenuh hati. Umat tidak menuntut banyak dari para imamnya. Mereka hanya mengharapkan agar imamnya benar-benar memberikan pelayanan yang tulus kepada mereka. Kadang ada imam yang bukannya melayani tetapi justru minta dilayani. “Ingat! Imam di dunia modern ini harus DRS. Tau apa itu DRS? DRS adalah Disponable (melayani), Rendah hati, dan Sederhana. Imam bukan bos, bukan birokrat gerejawi, dan bukan manager paroki. Imam adalah gembala. Jadi, sebagai gembala, mereka harus melayani dan bukan minta dilayani. Kalau mau jadi imam, harus menjadi imam yang bermutu. Bukan imam asal-asalan. Kalau memang tidak mau, keluar saja dari frater sekarang!”, katanya dengan tegas.
Berhadapan dengan realitas banyaknya imam yang saat ini meninggalkan imamatnya, Mgr. Praja mengatakan bahwa paling kurang ada 2 penyebabnya. Pertama, karena si imam melupakan Tuhan, jarang berdoa. Kedua karena ia bekerja sendiri, tidak melibatkan orang lain. Imam-imam yang meninggalkan imamatnya bukan pertama-tama karena perempuan, tetapi karena mereka telah melupakan Tuhan. Imam sudah tidak pernah berdoa. Selain itu karena si imam tidak memiliki kebiasaan sharing pada rekan imamnya. Mgr. Praja mensyaringkan pengalamannya selama lebih dari 20 tahun menjadi uskup di keuskupan Banjarmasin. Ia mengatakan bahwa selama menjadi uskup di sana, tidak ada satu orang imam pun di keuskupannya yang meninggalkan imamatnya. Salah satu kuncinya adalah karena di sana imam memiliki kebiasaan bersharing. Setiap sebulan sekali diadakan sharing bersama para imam untuk mensharingkan segala keberhasilan dan kegagalannya dalam menggembalakan umat. Ingatlah bahwa kebersamaan itu menentukan panggilan. Dan selain itu, di sana ada kebiasaan saling mendoakan. Imam mendoakan umatnya dan umat mendoakan imamnya. Kekuatan doa itu paling besar pengaruhnya. Karena itu jadi imam jangan malas berdoa.
Menjadi Imam Dambaan Umat
Pembahasan mengenai Imam Dambaan Umat ini diutarakan berdasarkan masukan dari ratusan umat yang telah dikumpulkan langsung oleh Mgr. Praja. Permenungan mengenai imam dambaan umat dimulai dari upacara pentahbisan yang dialami oleh seorang imam ketika ditahbiskan. Setiap imam harus selalu ingat apa yang dilakukan dan diucapkan dalam tahbisannya. Di sana ada janji imamat yang diucapkan dengan begitu gagah dan agung. Ingatlah bahwa dalam tahbisan tersebut seorang imam telah berjanji untuk melaksanakan tugas imamat dengan cermat dan dalam kerja sama yang setia dengan uskup menggembalakan umat Tuhan di bawah bimbingan Roh Kudus. Sekali lagi imam bukan bos, bukan birokrat gerejawi dan bukan manager paroki, imam adalah gembala. Imam ada bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.
Kedua, imam telah berjanji untuk merayakan misteri Yesus dalam Gereja dengan hormat dan setia. Imam harus mempersiapkan diri agar dapat merayakan sakramen dengan khidmat. Jangan hanya asal membaca rubrik. Jangan loncat dari tempat tidur langsung memimpin misa karena terlambat bangun. Ketiga, imam telah berjanji untuk mewartakan Sabda Allah dengan pantas dan bijaksana. Dalam berkhotbah gunakan bahasa Jepang (JElas dan gamPANG). Jangan bahasa yang sulit-sulit. Dan ingat, apa yang Anda ajarkan itu haruslah yang Anda dalami, hayati dan laksanakan dalam hidup Anda. Jangan berkotbah tentang kasih sementara Anda dengan sesama pastor di satu pastoran tidak saling mengasihi.
Keempat, imam berjanji untuk semakin erat mempersatukan diri dengan Yesus Sang Imam Agung. Hidup para imam harus bersumber dan berpusat pada Yesus dengan doa, sabda dan ekaristi. Hidup para imam harus dibimbing oleh Roh Kudus dan dihiasi oleh buah-buah Roh dan menghayati Sabda Bahagia, serta hidup bersama Maria sebagai ibu dan pelindung imam. Dan kelima, para imam telah berjanji untuk menghormati dan mentaati uskup dan para penggantinya. Para imam tidak boleh melekat pada tempat atau pekerjaan tertentu. Ingatlah, di manapun engkau dapat berbuat baik, di situlah tempatmu.    
Selain itu hidup para imam harus selalu dihiasi oleh buah-buah roh: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelembutan hati, pengendalian diri, dan kerendahan hati. Para imam harus melayani dengan penuh kasih dan gembira. Jangan sampai ada orang yang pergi dari Anda tanpa mendapatkan apa-apa. Anda sebagai imam harus menjadi saluran kasih dan berkat bagi sesama. Anda harus melayani dengan gembira karena Anda adalah pewarta kabar gembira.


Sadarilah....
Menjadi imam itu sulit. Menjadi imam itu berat. Tetapi jangan lalu berkecil hati. Ingatlah, kata-kata Leonardo da Vinci, “Otak Anda lebih cemerlang dari pada yang Anda duga”. Demikian pun dengan kemampuan Anda, lebih besar dari pada apa yang Anda pikirkan. Dan hati Anda lebih hebat dari pada yang Anda duga. Sadarilah, masa depan Gereja Indonesia dan khususnya masa depan KAMS ada di pundak Anda. Dan yakinilah, Anda tidak sendirian. Dia yang telah memanggil Anda masing-masing akan selalu setia. Dia akan selalu memberikan kekuatan kepada Anda untuk mampu melaksanakan tugas berat ini. Sehingga mudah-mudahan kelak Anda akan menjadi imam-imam yang bermutu, imam-imam yang baik, imam yang dapat dijadikan suri teladan, imam yang melayani dengan sepenuh hati, imam yang rendah hati, dan sederhana. Itulah imam dambaan umat.

Fr. Cornelius Timang
Calon imam dari Keuskupan Agung Makassar
Tinggal di Seminarium Anging Mammri, Yogyakarta
dan sekarang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di KAMS