Kamis, 13 September 2012

Kebangsaan


ZAMRUD  yang kan   AMBRUK
Oleh: Cornelius Timang
 

Di suatu masa belum lama ini, Indonesia dijuluki ‘Zamrud Khatulistiwa’. Zamrud itu kini akan berubah menjadi ‘Ambruk’
Zamrud adalah semacam batu permata yang berwarna hijau seperti lumut. Istilah zamrud ini pernah menjadi julukan untuk Indonesia, yakni ‘Zamrud Khatulistiwa’. Sebutan ini tidaklah berlebihan. Indonesia memanglah negeri yang subur, kaya dan indah, sehingga tidak heranlah jika Indonesia menjadi salah satu negara incaran para turis mancanegara. Sebut saja misalnya, Bunaken, salah satu taman laut yang sangat indah di Sulawesi Utara, atau danau Toba di Sumatra Utara ataukah Pantai Kuta di Bali dan tempat-tempat lain di Indonesia yang menawarkan keindahannya yang tak ternilai. Keindahan itu sangat jelas terungkap dalam lagu karangan Ismail Marzuki, Rayuan Pulau Kelapa.
Namun negeri yang dulu indah, hijau, subur dan selalu dipuja dan dibanggakan kini menjadi kurus, kering bahkan menjadi negara yang tidak pernah luput dari bencana. Sebut saja banjir yang melanda sebagian besar tempat di Indonesia yang menjadi salah satu catatan hitam di tahun 2007, ataukah issue pemanasan global. Berkaitan dengan masalah pemanasan global ini, Indonesia dituduh sebagai salah satu negara yang harus bertanggung jawab. Memang masuk akal, karena Indonesia adalah paru-paru dunia. Faktanya memang demikian. Dalam majalah TEMPO edisi 3-9 Desember 2007, dikatakan bahwa Indonesia masuk dalam Guinness Book of World Records dengan nominasi ‘Negara Penghancur Hutan’ tercepat. Zamrud khatulistiwa benar-benar kini akan Ambruk.
Indonesia memiliki peran sentral dalam penanganan masalah pemanasan global. Karena itu sebagai wujud kepeduliannya, Indonesia bersedia menjadi tuan rumah United National Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, yang diadakan di Nusa Dua, Bali, 3-14 Desember yang lalu. Pertemuan yang menghabiskan 115 Miliar itu diikuti oleh sekitar sepuluh ribu peserta dari 190 negara.
Setelah diadakan UNFCCC yang menelan 115 Miliar dana APBN itu, apakah dampaknya bagi Indonesia. Apakah UNFCCC merupakan jaminan bahwa Indonesia yang akan ‘Ambruk’ kini dapat menjadi ‘Zamrud’ lagi?
UNFCCC yang diadakan selama 12 hari itu telah mengasilkan beberapa keputusan, diantaranya: kesepakatan membiayai proyek adaptasi negara berkembang; kesepakatan untuk memulai program strategis  untuk alih teknologi mitigasi dan adaptasi yang dibutuhkan negara berkembang; kesepakatan untuk mengurangi laju deforestasi; kesepakatan untuk mengadakan batas ukuran proyek penghutanan kembali menjadi 16 kiloton CO2  per tahun dan membantu negara-negara miskin. Rumusan-rumusan indah yang dirumuskan dalam konvensi itu sungguh bergantung pada para pesertanya. Berhasil-tidaknya UNFCCC itu, hanya dapat dibuktikan sepuluh dua puluh tahun kedepan. Apakah pemanasan global masih terus berlangsung atau tidak. Jangan hanya NATO tetapi mulailah dari sekarang, hodie, hic et nunc. Jangan tunggu sampai besok.
Saya sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh para siswa SMA Smart Ekselensia, Bogor, Jawa Barat. Aksi mereka itu diuraikan dengan jelas dalam KOMPAS tanggal 7 Desember 2007, halaman 50. Mereka tidak tinggal diam, tetapi justru melakukan tindakan real. Mereka merumuskan aksi mereka dalam 5 R 1 O, yaitu refuse, menolak menggunakan barang yang tidak ramah lingkungan; reduce, menggunakan barang seperlunya; reuse, menggunakan barang bekas untuk kegunaan yang sama; recycle, menggunakan barang bekas untuk keperluan yang berbeda; rethink, mengubah paradigma yang cenderung eksploitatif dan merusak alam menjadi paradigma yang ramah lingkungan dan yang terakhir, otarki yaitu menanami pekarangan dan penghijauan lingkungan.
Langkah-langkah paraktis seperti yang dilakukan oleh mereka itulah yang seharusnya dijadikan contoh dan teladan oleh seluruh bangsa Indonesia. ‘Zamrud Khatulisiwa’ sungguh akan ‘Ambruk’ jika kita tidak segera melakukan tindakan-tindakan nyata. Mulailah dari diri sendiri. Akankah Indonesia menyandang kembali julukan itu? Semua ini berada di tangan kita. Yakinlah bahwa ‘Zamrud’ itu belumlah ‘Ambruk’. Mungkin hanya ‘terperciki’ oleh lumpur kelalaian manusia, atau hanya ‘tercemar’ oleh noda keserakahan manusia. Noda itu hanya dapat dibersihkan bersama dengan ‘deterjen’ khusus. Deterjennya adalah kesadaran, tanggung jawab dan kebijaksanaan.

Tulisan ini pernah diberikan kepada tim dari KOMPAS