ZAMRUD yang
kan AMBRUK
Oleh: Cornelius Timang
Di
suatu masa belum lama ini, Indonesia dijuluki ‘Zamrud Khatulistiwa’. Zamrud itu
kini akan berubah menjadi ‘Ambruk’
Zamrud adalah semacam batu
permata yang berwarna hijau seperti lumut. Istilah zamrud ini pernah menjadi
julukan untuk Indonesia, yakni ‘Zamrud Khatulistiwa’. Sebutan ini tidaklah
berlebihan. Indonesia memanglah negeri yang subur, kaya dan indah, sehingga
tidak heranlah jika Indonesia menjadi salah satu negara incaran para turis
mancanegara. Sebut saja misalnya, Bunaken, salah satu taman laut yang sangat
indah di Sulawesi Utara, atau danau Toba di Sumatra Utara ataukah Pantai Kuta
di Bali dan tempat-tempat lain di Indonesia yang menawarkan keindahannya yang
tak ternilai. Keindahan itu sangat jelas terungkap dalam lagu karangan Ismail
Marzuki, Rayuan Pulau Kelapa.
Namun negeri yang dulu indah,
hijau, subur dan selalu dipuja dan dibanggakan kini menjadi kurus, kering
bahkan menjadi negara yang tidak pernah luput dari bencana. Sebut saja banjir yang
melanda sebagian besar tempat di Indonesia yang menjadi salah satu catatan
hitam di tahun 2007, ataukah issue pemanasan global. Berkaitan dengan masalah
pemanasan global ini, Indonesia dituduh sebagai salah satu negara yang harus
bertanggung jawab. Memang masuk akal, karena Indonesia adalah paru-paru dunia. Faktanya memang
demikian. Dalam majalah TEMPO edisi 3-9 Desember 2007, dikatakan bahwa Indonesia
masuk dalam Guinness Book of World
Records dengan nominasi ‘Negara Penghancur Hutan’ tercepat. Zamrud khatulistiwa
benar-benar kini akan Ambruk.
Indonesia memiliki peran
sentral dalam penanganan masalah pemanasan global. Karena itu sebagai wujud
kepeduliannya, Indonesia bersedia menjadi tuan rumah United National Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)
atau Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, yang diadakan di Nusa
Dua, Bali, 3-14 Desember yang lalu. Pertemuan yang menghabiskan 115 Miliar itu
diikuti oleh sekitar sepuluh ribu peserta dari 190 negara.
Setelah diadakan UNFCCC yang
menelan 115 Miliar dana APBN itu, apakah dampaknya bagi Indonesia. Apakah
UNFCCC merupakan jaminan bahwa Indonesia yang akan ‘Ambruk’ kini dapat menjadi ‘Zamrud’
lagi?
UNFCCC yang diadakan selama 12
hari itu telah mengasilkan beberapa keputusan, diantaranya: kesepakatan
membiayai proyek adaptasi negara berkembang; kesepakatan untuk memulai program
strategis untuk alih teknologi mitigasi
dan adaptasi yang dibutuhkan negara berkembang; kesepakatan untuk mengurangi
laju deforestasi; kesepakatan untuk mengadakan batas ukuran proyek penghutanan
kembali menjadi 16 kiloton CO2 per tahun dan membantu negara-negara miskin.
Rumusan-rumusan indah yang dirumuskan dalam konvensi itu sungguh bergantung
pada para pesertanya. Berhasil-tidaknya UNFCCC itu, hanya dapat dibuktikan
sepuluh dua puluh tahun kedepan. Apakah pemanasan global masih terus
berlangsung atau tidak. Jangan hanya NATO tetapi mulailah dari sekarang, hodie, hic et nunc. Jangan tunggu sampai
besok.
Saya sangat terkesan dengan
apa yang dilakukan oleh para siswa SMA Smart Ekselensia, Bogor, Jawa Barat.
Aksi mereka itu diuraikan dengan jelas dalam KOMPAS tanggal 7 Desember 2007,
halaman 50. Mereka tidak tinggal diam, tetapi justru melakukan tindakan real.
Mereka merumuskan aksi mereka dalam 5 R 1 O, yaitu refuse, menolak menggunakan barang yang tidak ramah lingkungan; reduce, menggunakan barang seperlunya; reuse, menggunakan barang bekas untuk
kegunaan yang sama; recycle,
menggunakan barang bekas untuk keperluan yang berbeda; rethink, mengubah paradigma yang cenderung eksploitatif dan merusak
alam menjadi paradigma yang ramah lingkungan dan yang terakhir, otarki yaitu menanami pekarangan dan
penghijauan lingkungan.
Langkah-langkah paraktis
seperti yang dilakukan oleh mereka itulah yang seharusnya dijadikan contoh dan
teladan oleh seluruh bangsa Indonesia. ‘Zamrud Khatulisiwa’ sungguh akan
‘Ambruk’ jika kita tidak segera melakukan tindakan-tindakan nyata. Mulailah
dari diri sendiri. Akankah Indonesia menyandang kembali julukan itu? Semua ini
berada di tangan kita. Yakinlah bahwa ‘Zamrud’ itu belumlah ‘Ambruk’. Mungkin
hanya ‘terperciki’ oleh lumpur kelalaian manusia, atau hanya ‘tercemar’ oleh
noda keserakahan manusia. Noda itu hanya dapat dibersihkan bersama dengan
‘deterjen’ khusus. Deterjennya adalah kesadaran, tanggung jawab dan
kebijaksanaan.
Tulisan ini pernah diberikan kepada tim dari KOMPAS