7 kali jatuh
Hari masih pagi. Matahari belum menampakkan dirinya diufuk Timur. Kabut berwarna putih menutupi pandangan mata. Udara sangat dingin menusuk tulang. Kupaksakan diriku menuju garasi untuk memanaskan motor tuaku. Sekali-dua kali motor GL Max keluaran tahun 89 itu kustater namun belum juga berbunyi. Aku mencoba lagi dengan terlebih dahulu menstater tanpa mengontak kuncinya, namun juga belum berhasil. “Ritual” pemanasan motor sampai berkali-kali seperti ini sebenarnya sering aku lakukan. Maklumlah motor dinas yang dipercayakan kepadaku itu sudah cukup tua bahkan sudah hampir seumuran denganku. Dengan berjuang keras akhirnya motor itu bisa berbunyi. Lumayan, bisa menjadi olah raga pagi-pagi untuk mengusir rasa dingin, pikirku dalam hati.
Hari itu aku bersama dengan pastor parokiku akan mengadakan kunjugan pastoral ke stasi Mongsia. Stasi Mongsia adalah stasi paling jauh yang berada dalam wilayah teritorial Paroki Kristus Imam Agung Abadi Sangalla’ Tana Toraja, paroki di mana aku ditugaskan untuk menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Jarak dari pastoran ke stasi tersebut sangatlah jauh dengan medan yang sangat berat. Dulu, stasi tersebut hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki 3-4 jam, tetapi syukurlah sekarang sudah bisa dijangkau dengan sepeda motor. Kendatipun sudah bisa dijangkau dengan sepeda motor, tetapi tantangan untuk sampai ke stasi tersebut tetap saja berat, karena jalan yang akan dilalui motor tersebut masih merupakan jalan rintisan. Sepanjang perjalanan sejauh puluhan kilometer, aku tidak pernah merasakan adanya jalan yang tidak bergelombang dengan aspal yang mulus. Jangankan jalan beraspal, jalan berkerikil yang halus pun akan jarang ditemui. Karena jauhnya, stasi ini hanya mendapatkan kunjungan pastoral 2-3 kali setahun, itu berarti umat di stasi tersebut sangat jarang merayakan ekaristi dan menyambut tubuh Kristus.
Harus Tahan Banting
Pagi itu semua perlengkapan sudah siap. Helm, Jaket kulit yang tebal, mantol hujan, celana jeans, dan tidak lupa sepatu boat untuk melindungi kaki dari jalan berlumpur, semuanya harus dipakai, demi keamanan dan keselamatan. Aku bersama dengan pastor parokiku pun berangkat ke stasi Mongsia. Ini adalah perjalanan pertamaku ke stasi. Aku harus bisa melalui perjalanan ini dengan baik, pikirku dalam hati.
Setapak demi setapak jalan berbatu-batu itu aku lalui. Sesekali aku harus menurunkan kakiku dari atas motor untuk menahan kalau-kalau motorku jatuh. Badanku harus pandai-pandai mengikuti arah motor yang tiba-tiba berbelok karena ada gundukan batu ataupun tergelincir karena licinnya jalan. Bahuku pun harus kuat menahan bantingan stir motor yang kadang berbelok ke kiri maupun ke kanan bahkan terangkat secara tiba-tiba. Jari-jari tanganku harus dengan lihai menarik rem dan kopling pada saat yang tepat. Dan mataku pun harus dengan cermat memilih jalan yang agak lebih baik untuk dilalui oleh motor.
Namun pada suatu pendakian yang sangat curam, tiba-tiba motorku berhenti. Aku menurunkan kedua kakiku dan dengan cekatan menarik rem depan. Tetapi sial, ternyata tali rem depannya putus. Motorku pun langsung mundur dengan perlahan padahal puncak pendakian tersebut masih jauh. Aku jadi panik. Ku coba kembali menyeimbangkan badan dan menahan beratnya motor tetapi tidak berhasil. Motor terbanting ke tanah, aku pun ikut jatuh. Syukurlah aku tidak tertindih oleh motor dan tidak jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Tetapi kakiku terkilir oleh sebuah batu pembatas jalan.
Sementara merintih kesakitan, aku melihat sekitarku dan mencoba mencari bantuan ternyata tidak seorang pun yang ada di sekitar situ. Aku juga mencari-cari di mana pastor berada, ternyata dia sudah berada jauh di depanku, walaupun aku berteriak toh dia pasti tidak mungkin mendegar teriakanku. Aku pun berusaha bangun kembali. Aku mencoba mengangkat motor yang sudah berada di bibir jurang itu. Sambil menarik rem, aku pun berusah membunyikan motor lagi. Syukurlah motor itu masih bisa berbunyi. Aku pun melanjutkan perjalananku.
Kali ini aku lebih berhati-hati. Motor pun aku jalankan dengan lebih lambat. Alon-alon asal klakon, pikirku dalam hati. Namun ternyata prinsip itu tidak berhasil menghadapi medan yang berat. Aku sudah berhati-hati dan laju motor pun aku kurangi, ternyata aku masih saja jatuh. Pada suatu penurunan yang sangat terjal, aku berusaha menarik rem tangan dan kaki, ternyata motor tidak berhenti juga. Justru jalannya bertambah laju. Aku hanya pasrah saja. Aku mencoba mengikuti arah jalan yang terjal itu, dan berusaha mencari cara bagaimana agar motor itu bisa berhenti karena di samping kiri dan kanan semuanya jurang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengarahkan motor itu ke dalam sebuah semak-semak yang ada di depanku, tepat pada sebuah tikungan tajam. Akhirnya motor itu behenti, namun aku terbanting jauh ke depan. Syukurlah aku masih bisa selamat.
Aku berusaha bangkit lagi dan mencoba melanjutkan perjalananku sementara itu hari sudah semakin siang. Jarum jam ku sudah menunjukkan pukul 9, padahal kami harus mengadakan misa di stasi pada pukul 9 pagi. Bukan lagi biar lambat asal selamat, tetapi harus cepat dan tepat, itulah prinsipku sekarang. Aku pun mulai menjalankan motorku lagi. Pada jalan yang agak baik, aku menarik gas tinggi-tinggi, namun ketika jalan jelek dan berbahaya, aku menurunkan gas. Cara ini pun tidak berhasil. Aku toh masih jatuh bahkan masih 5 kali. Setelah berkali-kali jatuh, akhirnya aku bisa sampai dengan selamat kendatipun harus jatuh sampai 7 kali. Sungguh-sungguh suatu perjalanan yang sangat mengesankan sekaligus menegangkan.
Remah-Remah
Pengalaman terjatuh sampai 7 kali ini sungguh memberikan suatu nilai tersendiri bagiku. Aku tidak tahu apakah jumlah ini terjadi secara kebetulan saja. Tetapi bagi ku, angka 7 itu memiliki makna tersendiri. Sebagaima dalam tradisi biblis, angka 7 merupakan angka sempurna, pun juga dengan pengalaman kejatuhanku sampai 7 kali. Mungkin pengalamanku ini bisa disebut sebagai pengalaman jatuh yang sempurna. Bagiku, pengalaman terjatuh namun bisa bangkit kembali itulah yang menjadikan pengalamanku ini menjadi pengalaman jatuh yang sempurna. Setiap orang pasti pernah jatuh, namun tidak setiap orang yang mampu bangkit kembali. Justru ketika kita terjatuh namun bangkit kembali menjadikan sebuah perjalanan hidup kita menjadi semakin berkesan. Aku terjatuh bahkan sampai 7 kali dalam perjalanan ke Mongsia, justru membuatnya menjadi pengalaman tak terlupakan. Ketika aku jatuh, aku harus mampu bangkit kembali.
Pengalaman jatuhku itu menyadarkan aku lagi bahwa memang aku harus mampu tahan banting. Mental yang kuat sangat dibutuhkan dalam medan yang berat. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Mgr. Piet Timang bahwa spritialitas para imam dan calon imam praja harus berspiritualitas Ayam Kampung. Artinya para imam dan calon imam harus mampu mengais, bekerja keras, dan lebih dari itu harus tahan banting.
Selain kerja keras, satu hal yang juga aku petik dari pengalaman tersebut adalah bahwa bagaimanapun, doa harus berada di atas segalanya. Bisa saja aku bekerja dengan giat, bersemangat dalam pelayanan, dan rajin mengunjungi umat tanpa kenal lelah, namun tanpa doa semuanya tidak akan berarti. Justru kemantapan hidup doa akan diuji ketika kita sudah terjun ke lapangan. Hidup doa yang mantap justru akan terbukti dalam kesibukan kehidupan sehari-hari namun masih meluangkan waktu untuk berdoa dan bermenung.
(Tulisan ini dikirim ke majalah DIALOG)
Fr. Cornelius Timang
TOPer Paroki KIAA Sangalla’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar