SAAT IBUKU TIADA
Cornelius Timang
Di seminari, setiap menjelang liburan, kami mempunyai kebiasaan mengadakan acara kerja bakti besar (opera magna) untuk membersihkan asrama. Bersih tidaknya asrama, menjadi ukuran bgi kami untuk berlibur. Semakin cepat selesai, semakin cepat pula kami pergi. Tetapi semakin lambat selesai maka semakin lambat pula kami pergi; artinya hari libur semakin berkuran. Adapun pos-pos yang harus kami kerjakan adalah unit asarma, unit pendidikan, selokan dan tempat-tempat lainnya. Pokoknya semua harus dalam keadaan bersih. Ini juga termasuk membersihkan dinding-dinding bangunan dengan mengecat bagian yang sudah mulai keropos.
Ketika semuanya nampak sudah selesai, aku dan beberapa teman masih melanjutkan pengecatan dinding tembok yang berada tepat di samping kamarku. Kendati luasnya memang hanya beberapa meter persegi, tetapi tempatnya cukut berbahaya karena berada di lantai dua dan tak ada tempat berpijak sama sekali. Karena itu kami menjulurkan sebatang bamboo dari jendela yang satu dan bamboo yang lainpada jendela yang lain pula. Beberapa bambu kami tancapkan sebagai tiang dari dasar lantai, dan ujung bambu itu kami ikat dengan bambu yang dari jendela. Beberapa bambu yang lain kami bentangkan sebagai temapat berpijak.
Kami bekerja dengan semangat dan berusaha dapat menyelesaikannya dengan cepat. Aku mengecat pada bagian sudut bangunan itu. Berkonsentrasi penuh denga pekerjaan itu hampir membuatku tidak sadar bahwa aku sudah berada pada ujung bambu itu. Namun tiba-tiba ada teman yang menumpahkan cat pada bagian yang telah aku cat itu. Itu membuatku kesal dan memarahinya. Dia diam tanpa berkata apa-apa.
Sebualan kemudian, ketika kami sedang belajar di kelas, tiba-tiba romo rektor datang memanggilku. Aku merasa senang karena pikirku, dia pasti datang memberitahukan aku bahwa namaku telah terdaftar dalam nama seminaris yang akan menerima dana GOTAUS (Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari). Aku keluar dari kelas mengikuti romo rektor ke kamarnya. Aku dipersilahkan duduk. Tetapi di situ ada juga pamanku. Aku menjadi heran. Jangan-jangan aku hendak dieliminasi (vonis keluar), pikirku.
Romo rektor memulai pembicaraan, tetapi sebelumnya dia dan pamanku salaing memandang. Aku merasa ada yang aneh di antara mereka. “Cornelis, sabar yah...sebenarnya saya tidak tega menyampaikan ini pada kamu”. Ia berhenti sejenak. Lalu melanjutkannya, “...beberapa menit yang lalu aku mendapat telepon dari saudara kamu...katanya ....ibu kamu meninggal”, katanya sambil menunduk. “Ah, meninggal? Aku tidak percaya”, seruku. “Liburan kemarin ketika aku pulang, aku masih bertemu dengan dia koq bahkan dia masih berpesan padaku agar aku rajin belajar agar kelak dapat menjadi romo”. Pamanku yang dari tadi hanya menunduk, kini mulai berbicara, “memang. Tetapi kenyataanya memang demikian. Ibu kamu meninggal dengan tiba-tiba. Aku sudah bicara dengan romo rektor. Malam ini kamu akan pulang. Karena semua sauara kamu sudah ada di rumah, tinggal kamulah yang ditunggu,” katanya sambil menangis.
Antara sadar dan tidak, aku keluar dari kamar romo rektor. Langit terasa runtuh. Air mataku tak tertahankan lagi. Aku merasa Tuhan sungguh tidak adil. Aku masuk ke kelas, ternyata teman-temanku sudah mengetahuinya. Mereka datang menghibur aku. Mereka memelukku.
Kejadian itu terjadi dua tahun lalu. Aku kadang tidak dapat mengerti mengapa kejadian itu harus terjadi pada saat itu. Mengapa bukan pada kesempatan lain. Dan mengapa meski ibuku yang dipanggil. Mengapa bukan Ibu Grazy, tetanggaku yang sejak lahir sudah menjadi gila. Atau Ibu Saki yang setiap dua kali seminggu harus melakukan pencucian darah. Seakan-akan Tuhan tidak adil terhadapku. Ketika ibu meniggal, aku harus mengikuti ujian akhir. Juga saat itu adik yang paling bungsu baru berusia 7 tahun. Ia belum tahu apa-apa. Ia masih tergantung pada kasih sayang ibuku. Aku benar-benar tidak bisa mengerti.
Peristiwa itu benar-benar membuat panggilanku goyah. Aku merasa bahwa panggilan ini sia-sia saja. aku ingin menjadi imam untuk meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu memang ada. Dia itu Maha Baik. Tetapi bagaimana mungkin aku dapat mewartakanNya jika aku saja sudah merasa bahwa Dia itu seakan-akan tidak ada.
Melalui refleksi selama satu tahun di Tahun Orientasi Rohani (TOR), aku baru meyadari baha peristiwa itu ternyata mempunyai makna tersendiri khususnya bagi panggilanku. Aku baru menyadari bahwa kepergian ibu secara tidak langsung menjadi motivasi utama aku memutuskan untuk terus ke Seminari Tinggi. Sebelum ibuku mengembuskan nafas terakhirnya, dia ternyata selalu memanggil aku. Dia memanggil-manggil namaku. Dia berteriak-teriak “nak...doakan aku...doakan aku”. Dari kata-katanya itu, aku menarik kesimpulan bahwa dia ternyata sangat mengharapkan aku untuk terus berjuang. Ia sanagat mengarapkanku untuk dapat meraih cita-citaku, seperti pesannya ketika terakhir kali aku bertemunya saat liburan.
Aku baru menyadari bahwa itulah makna yang tersimpan di balik peristiwa itu. Sama seperti temanku yang ternyata sengaja menumpahkan cat pada tembok yang sedang aku cat. Sebenarnya dia mempunyai maksud yang sangat dalam. Aku baru sadar bahwa seandainya dia tidak melakukan itu, mungkin aku akan mendahului ibuku. Seandainya ia bereriak “awas!”, aku pasti akan kaget dan pasti akan jatuh. Demikian juga Tuhan, karyaNya kadang tak mampu kita lihat dengan sepintas tanpa melakukan refleksi.
Kematian bagi kebanyakan orang menjadi sesuatu yang sangat menakutkan dan menjadi sumber duka cita mendalam sehingga banyak orang mengambil kesimpulan yang salah, mengambil keputusan yang salah. Tetapi aku mempunyai pandangan baru tentang hal itu, yakni dari peristiwa keatian Tuhan ingin menyampaikan suatu pesan.
Kepergian ibu bukanlah sesuatu yang seharusnya aku sesali dan kuprotes pada Tuhan. Aku seharusnya bersukacita, bukan karena ibu meniggal, tetapi karena ibu kini menjadi pendoa bagiku dan bagi keluargaku. Dulu aku hanya dapat merasakan kasih sayang ibu ketika aku bertemu muka dengannya saat aku pulang ke rumah, tetapi kini aku dapat merasakan kasih sayangnya setiapa saat. Dari permenungan ini pula aku bisa menyadari bahwa Tuhan itu sungguh ada. Tuhan selalu ada di setiap langkah hidupku dan hadir nyata dalam hidupku bahkan dalam pengalaman pahit dan menyakitkan pun Dia selalu ada. Terimalah ibu dalam pangkuanMU.y
Tulisan ini pernah dimuat di majalah ROHANI edisi Februari 2008
mantap bos......
BalasHapussemoga tetap semangat n setia dalam panggilan
Tenkiu...
BalasHapusIyalah..harus tetap semangat dan setia.