Senin, 23 Mei 2011

Refleksi

Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya. Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi ...biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, "Ayo, kayuh terus pedalnya!"

Aku takut, khawatir dan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan ... orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan ... perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita." Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan.

Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh ... menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata ... "Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."

Minggu, 22 Mei 2011

Lingkungan

ZAMRUD  yang kan   AMBRUK
Oleh: Cornelius Timang


Di suatu masa belum lama ini, Indonesia dijuluki ‘Zamrud Khatulistiwa’. Zamrud itu kini akan berubah menjadi ‘Ambruk’
Zamrud adalah semacam batu permata yang berwarna hijau seperti lumut. Istilah zamrud ini pernah menjadi julukan untuk Indonesia, yakni ‘Zamrud Khatulistiwa’. Sebutan ini tidaklah berlebihan. Indonesia memanglah negeri yang subur, kaya dan indah, sehingga tidak heranlah jika Indonesia menjadi salah satu negara incaran para turis mancanegara. Sebut saja misalnya, Bunaken, salah satu taman laut yang sangat indah di Sulawesi Utara, atau danau Toba di Sumatra Utara ataukah Pantai Kuta di Bali dan tempat-tempat lain di Indonesia yang menawarkan keindahannya yang tak ternilai. Keindahan itu sangat jelas terungkap dalam lagu karangan Ismail Marzuki, Rayuan Pulau Kelapa.
Namun negeri yang dulu indah, hijau, subur dan selalu dipuja dan dibanggakan kini menjadi kurus, kering bahkan menjadi negara yang tidak pernah luput dari bencana. Sebut saja banjir yang melanda sebagian besar tempat di Indonesia yang menjadi salah satu catatan hitam di tahun 2007, ataukah issue pemanasan global. Berkaitan dengan masalah pemanasan global ini, Indonesia dituduh sebagai salah satu negara yang harus bertanggung jawab. Memang masuk akal, karena Indonesia adalah paru-paru dunia. Faktanya memang demikian. Dalam majalah TEMPO edisi 3-9 Desember 2007, dikatakan bahwa Indonesia masuk dalam Guinness Book of World Records dengan nominasi ‘Negara Penghancur Hutan’ tercepat. Zamrud khatulistiwa benar-benar kini akan Ambruk.
Indonesia memiliki peran sentral dalam penanganan masalah pemanasan global. Karena itu sebagai wujud kepeduliannya, Indonesia bersedia menjadi tuan rumah United National Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, yang diadakan di Nusa Dua, Bali, 3-14 Desember yang lalu. Pertemuan yang menghabiskan 115 Miliar itu diikuti oleh sekitar sepuluh ribu peserta dari 190 negara.
Setelah diadakan UNFCCC yang menelan 115 Miliar dana APBN itu, apakah dampaknya bagi Indonesia. Apakah UNFCCC merupakan jaminan bahwa Indonesia yang akan ‘Ambruk’ kini dapat menjadi ‘Zamrud’ lagi?
UNFCCC yang diadakan selama 12 hari itu telah mengasilkan beberapa keputusan, diantaranya: kesepakatan membiayai proyek adaptasi negara berkembang; kesepakatan untuk memulai program strategis  untuk alih teknologi mitigasi dan adaptasi yang dibutuhkan negara berkembang; kesepakatan untuk mengurangi laju deforestasi; kesepakatan untuk mengadakan batas ukuran proyek penghutanan kembali menjadi 16 kiloton CO2  per tahun dan membantu negara-negara miskin. Rumusan-rumusan indah yang dirumuskan dalam konvensi itu sungguh bergantung pada para pesertanya. Berhasil-tidaknya UNFCCC itu, hanya dapat dibuktikan sepuluh dua puluh tahun kedepan. Apakah pemanasan global masih terus berlangsung atau tidak. Jangan hanya NATO tetapi mulailah dari sekarang, hodie, hic et nunc. Jangan tunggu sampai besok.
Saya sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh para siswa SMA Smart Ekselensia, Bogor, Jawa Barat. Aksi mereka itu diuraikan dengan jelas dalam KOMPAS tanggal 7 Desember 2007, halaman 50. Mereka tidak tinggal diam, tetapi justru melakukan tindakan real. Mereka merumuskan aksi mereka dalam 5 R 1 O, yaitu refuse, menolak menggunakan barang yang tidak ramah lingkungan; reduce, menggunakan barang seperlunya; reuse, menggunakan barang bekas untuk kegunaan yang sama; recycle, menggunakan barang bekas untuk keperluan yang berbeda; rethink, mengubah paradigma yang cenderung eksploitatif dan merusak alam menjadi paradigma yang ramah lingkungan dan yang terakhir, otarki yaitu menanami pekarangan dan penghijauan lingkungan.
Langkah-langkah paraktis seperti yang dilakukan oleh mereka itulah yang seharusnya dijadikan contoh dan teladan oleh seluruh bangsa Indonesia. ‘Zamrud Khatulisiwa’ sungguh akan ‘Ambruk’ jika kita tidak segera melakukan tindakan-tindakan nyata. Mulailah dari diri sendiri. Akankah Indonesia menyandang kembali julukan itu? Semua ini berada di tangan kita. Yakinlah bahwa ‘Zamrud’ itu belumlah ‘Ambruk’. Mungkin hanya ‘terperciki’ oleh lumpur kelalaian manusia, atau hanya ‘tercemar’ oleh noda keserakahan manusia. Noda itu hanya dapat dibersihkan bersama dengan ‘deterjen’ khusus. Deterjennya adalah kesadaran, tanggung jawab dan kebijaksanaan.

Dialog Agama

Cinta Kasih Sebagai Bahasa Dialog
 


Pengantar
Aku berasal dari keluarga yang plural. Ayahku Katolik, tetapi ibuku Muslim, saudara-saudaraku yang lain ada yang ikut ayah tetapi ada juga yang Hindu. Orang tua ayahku memang sejak kecil mengimani iman Katolik. Bahkan dapat dikatakan bahwa dia termasuk orang Katolik yang cukup saleh. Dia sangat rajin ke Gereja kendati umurnya sudah lanjut. Setiap pagi, sebelum kami bangun, dia sudah duduk bersila di depan sebuah patung Bunda Maria di dalam kamarnya, sambil mendoakan doa-doa yang saat itu, aku belum tahu artinya. Ketika masa prapaska, dia juga masih menjalankan kewajiban berpantang dan berpuasa. Bahkan sepanjang 40 hari masa prapaska dia berpuasa, tidak hanya pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Karena Kekatolikan Kakekku yang begitu kuat, maka dia sangat menganjurkan agar semua anaknya tidak pernah meninggalkan ajaran Katolik. Oleh kerena itu ketika ibuku dan ayahku menikah, kakekku tidak mengizinkan ayahku meninggalkan iman Katolik, ibuku pun tidak ingin meninggalkan imannya.
Ibuku juga termasuk muslim yang soleh. Seingatku dia tidak pernah melalaikan kewajibannya menjalankan sholat 5 waktu. Ketika masa puasa dia tetap menyiapkan makanan untuk kami sekeluarga. Bahkan dia tidak merasa risih ketika memasak makanan yang haram bagi orang muslim pada umumnya. Ketika keluarga kami mendapat giliran doa lingkungan, ibuku tetap menyiapkan segala hal yang dibutuhkan saat ibadat itu. Dan pada hari raya besar yang dirayakan ayahku, ibuku selalu menyiapkan berbagai jenis kue-kuean untuk merayakan natal, tahun baru ataupun Paska. Dan demikian pula ketika hari raya Lebaran, kami sekeluarga merayakannya dengan gembira. Aku merasa sangat bahagia tinggal bersama keluargaku. Perbedaan iman sungguh bukanlah penghalang bagi keharmonisan keluarga kami.
Setelah dewasa aku baru menyadari bahwa keharmonisan keluarga kami ternyata tidak lahir begitu saja. Keharmonisan itu lahir dari sikap pengertian, penghargaan dan penerimaan satu sama lain. Itulah kunci keharmonisan dalam pluralitas. Kami tidak pernah menggunakan teori tinggi-tinggi dari para ahli, seperti yang aku terima dari para dosenku. Yang kami tahu adalah bahwa saling mengerti dan menghargai adalah keharusan bagi kami karena kami memiliki ikatan yang sama yaitu ikatan cinta sebagai saudara dan keluarga.

Keharmonisan Lahir dari Dialog
            Seorang filsuf, misalnya Plato, jika ditanya apa kunci keharmonisan di dunia ini, dia akan menjawab “kunci keharmonisan jika seorang mampu mengekang keinginan badaninya semaksimal mungkin”. Karena bagi Plato, badanlah yang memenjara jiwa sehingga tidak terjadi keharmonisan. Pendapat ini memang ada benarnya. Jika semua orang tidak mampu mengekang keinginannya sendiri, maka yang terjadi hanyalah kekacauan dan ketidakharmonisan. Karena memang pada dasarnya, secara kodrati, manusia hidup dengan makhluk  lain. Dan ia tidak bisa hidup sendiri, tanpa bantuan dan keterlibatan yang lain. Jika ia tidak mampu mengekang keinginannya sendiri maka yang terjadi pastilah ketidakharmonisan.
Lain filsuf, lain teolog. Bagi seorang teolog, keharmonisan akan tercapai jika manusia mampu hidup bersama dengan makhluk lain. Dan lebih dari itu, ia harus bisa membina hubungan yang mesrah dengan Teos, Si pemberi kehidupan. Keharmonisan itu hanya bisa tercapai jika manusia mampu hidup berdampingan dengan makhluk lain (sesama), mampu mengekang keegoisannya dan memiliki kepercayaan bahwa Tuhanlah satu-satunya penyelenggara hidupnya.
Para sosiolog dan antropolog juga akan setuju dengan jawaban di atas. Tetapi, alasannya mungkin berbeda. Bagi filsuf, pengekangan keinginan badan itu diperlukan untuk keharmonisan karena pada dasarya badan itu fana, sementara jiwa abadi. Bagi teolog alasannya karena adanya kekuatan “Super” di luar diri manusia, yang menjadi panoptik baginya. Tetapi bagi sosiolog, alasanya adalah karena manusia tentu saja tidak bisa hidup sendiri. Adanya fakta pluralitas di dunia ini. Manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Tentu saja keharmonisan itu tidak bisa tercapai dengan sendirinya. Interaksi dengan yang lain pun masih dibutuhkan. Interaksi itulah yang memungkinkan manusia menyampaikan maksud dan keinginannya pada orang lain. Dengan kata lain interaksi atau dialog menjadi peting untuk komunikasi satu sama lain. Namun sebenarnya alasan dialog bukan hanya itu, dialog atau interaksi juga dibutuhkan karena adanya fakta kebenaran di luar diri manusia. Fakta kebenaran itu dijumpai di dalam diri sesama, tidak hanya dalam dirinya sendiri.

Dialog sebagai Kebutuhan
Secara faktual, memang manusia tidak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu manusia membutuhkan orang lain. Namun dalam perjumpaan dan interaksinya dengan manusia lain, kandang mengalami masalah dan “Kles” atau ketidakcocokan. Ketidak cocokan ini tentu saja lahir dari adanya fakta pluralitas. Karena plural, maka kles dan miskomunikasi adalah sesuatu yang wajar. Kendatipun demikian, tidak berarti bahwa manusia harus menutup diri agar tidak terjadi kles itu. Justru karena adanya fakta pluralitas dan bahwa karena manusia tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, maka dialog menjadi suatu kebutuhan atau bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah kebutuhan.
Dalam interaksi bidang keagamaan, dialog juga menjadi penting karena adanya fakta pluralitas. Kardinal Jean-Louis Tauran, Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama (PCID), mengatakan “agama dapat menghasilkan yang terbaik tetapi juga yang terjahat. Ia dapat membuat orang menjadi suci tetapi juga bisa membuat orang merasa disingkirkan. Oleh kerena itu, demi masa depan kemanusiaan, kita ini ditakdrikan untuk berdialog”. Ini berarti bahwa dialog memang merupakan suatu yang harus dilakukan.
Fakta pluralitas ini sungguh membawa suatu dampak yang sangat besar bagi interaksi antar pemeluk agama. Namun kadang menjadi permasalahan adalah bahwa urgentitas dialog kadang sangat dipengaruhi oleh keberadaan suatu agama. Ketika suatu agama menjadi minoritas, tentu saja dialog akan sangat diagung-agungkan. Namun jika sebagai agama mayoritas, apakah dialog akan juga diutamakan? Permaslaahan lain yang juga muncul adalah bahwa efek dialog akan sangat kurang dirasakan ketika masih berada dalam lingkungan yang homongen.
Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan homogen dalam bidang agama yang sekarang ini dialai di FTW in, secara tidak langsung membentuk suatu mental pragmatis. Seakan-akan dialog itu tidak begitu urgen dan penting. Sebagai mahasiswa teologi, promosi panggilan, mendalami pemikiran para filsuf dan teolog jauh lebih urgen dari pada dialog. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan efeknya yang saat ini langung dirasakan. Masalah dialog sekarang ini di FTW belum terlalu kami rasakan. Paling banter kami alami secara langsung ketika kami jalan-jalan ke universitas lain. Tetapi itu pun sangat jarang kami lakukan. Pengalaman inilah yang membentuk mental kami. Tetapi tentu saja kita tidak akan jatuh dalam pragmatisme semacam ini jika kita selalu menempatkan pemikiran kita dalam ranah yang lebih luas, yaitu masa depan kemanusiaan.
Membutuhkan dialog karena minoritas di atas akan sangat gampang kita jumpai dalam hidup kita. Mari kita lihat daerah Flores misalnya yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Siapa yang sangat merindukan dialog? Tentu saja umat minoritas, bukan Katolik sebagai kaum mayoritas. Atau misalnya di Aceh dan Makassar yang lebih dari 90 % masyarakatnya beragama Islam. Yang sangat mengagung-agungkan dialog adalah agama minoritas. Juga kita dapat menjumpai gejala ini dalam sejarah peradabaan manusia. Pada sekitar abad pertama ketika Islam mengalami puncak kejayaan, muncul berbagai semboyan yang sampai sekarang kadang dijadikan oleh aliran keras sebagai referensi dalam men-judge, agama lain, “Islam adalah satu-satunya agama yang di Ridhoi Allah”. Dan pada sekitar abad pertengahan ketika Katolik mengalami puncak kejayaan, sempat muncul suatu adagio yang kendatipun kurang kontekstual, kadang dijadikan sebagai senjata, “ektra ecclesiam nulla salus”. Fakta ini ingin menunjukkan bahwa secara tidak langsung urgensitas dialog kadang ditentukan oleh eksistensi kwantitasnya pada saat itu.
Nah, menjadi pertanyaan kritis kita sekarang: jangan sampai dialog yang kita bagun selama ini atau yang akan kita bangun itu justru dilatarbelakangi oleh fakta minoritas kita sekarang ini?
Secara teologis-biblis petingnya dialog tidak dapat dilepaskan dari peristiwa inkarnasi, Allah menjadi Manusia. Dalam peristiwa itu, adalah inisiatif Allah pertama-tama. Selain itu, inisiatif Allah ini merupakan suatu suatu tidakan cinta Allah pada manusia. “Begitu besar cinta-Nya pada manusia sehingga Ia menyerahkan anak-Nya yang Tunggal menjadi manusia”. Karena Allah telah lebih dahulu mengadakan “Dialog” sejati pada manusia, maka kita pun diajak meneruskan diaog itu pada sesama. Jadi seharusnya dialog itu selalu diletakkan dalam konteks ini. Dialog dilakukan bukan karena kita adalah kaum minoritas, tetapi dialog merupakan panggilan hidup kita sebagai pengikut Kristus. Oleh karena itu dialog adalah konsekuensi iman kita. Dialog adalah suatu kebutuhan dan nafas iman kita.

Dialog Cinta Kasih
Pertanyaannya sekarang adalah: dialog macam apa yang akan kita bangun sekarang ini? Dan bagaimana kita memulainya?
Kardinal Tauran mengatakan bahwa dialog yang benar adalah dialog saling pengertian, yang memiliki bahasa yang sama, dengan kejujuran dan keinginan untuk memahami pandangan masing-masing. Pandangan Kardinal Tauran ini sekiranya dapat dijadikan sebagai acuan dalam dialog kita sekarang ini. Paling kurang ada 3 hal yang dikatakan oleh beliau yaitu: pengertian, bahasa yang sama dan kujujuran. Ketidakberhasilan dialog, kadang disebabkan karena tidak adanya saling pengertian. Masing-masing merasa bahwa apa yang diyakininyalah yang paling benar dan yang diyakini orang lain salah. Oleh karena itu sekiranya benarlah apa yang dikatakan Paus Paulus VI dalam ensikliknya Ecclesiam Suam. Beliau mengajukan 3 langkah, yaitu kesadaran, pembaharuan diri dan yang terakhir adalah dialog. Jadi Paus mengajak kita bahwa sebelum berdialog, kita harus memiliki kesadaran akan apa yang diyakini, dan setelah itu membaharui diri. Dan jika kedua langkah itu sudah dilaksanakan, maka langkah ketiga adalah berdialog.
Selain itu, bahasa dalam dialog juga penting. Bahasa dalam ini penting karena untuk menyamakan persepsi kita. Sekarang ini bahasa apa yang sekiranya cocok? Bahasa persaudaraan dan cinta kasih sekiranya dapat dijadikan bahasa yang pas saat ini. Merasa sebagai saudara, merasa senasib, merasa saling membutuhkan, merasa terbatas, semua itu harus diikat oleh suatu perasaan: yaitu cinta kasih.
Dialog yang didasari oleh cinta kasih ini mendapat pendasarannya pada “dialog” Allah-manusia. Dialog cinta kasih, adalah dialog yang didasarkan pada persaudaraan dan kekeluargaan. Sebagaimana keharmonisan dalam sebuah keluarga hanya dapat tercapai ketika ada perasaan cinta sebagai saudara dalam keluarga.

Penutup
Adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia hidup selalu bersama dan membutuhkan orang lain. Karena alasannya itulah maka manusia pun berinteraksi dengan sesamanya. Dalam bidang keagamaan pun demikian, pentingnya interaksi atau dialog dengan agama lain karena fakta sosial manusia.  Dan lebih dalam daripada itu, alasan dialog mendasarkan sumbernya pada peristiwa inkarnasi. Peristiwa cinta Allah yang tidak terbatas pada manusia. Karena itu dialog sesungguhnya mendapat nilainya pada dialog cinta kasih.
Lalu bagaiman Dialog dilaksanakan? Dalam konteks sekarang ini di FTW, sekiranya hal itu dapat dilaksanakan dengan semakin banyak mengalami pengalaman perjumpaan dengan orang lain, terutama agama lain. Hal itu dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan live-in bersama di sebuha pesantren. Bahkan jika bisa, kegiatan ini dapat dijadikan sebagai suatu kegiatan yang terprogram. Misalnya yang dilakukan pada mata kuliah lain seperti Proyek Sosial, Proyek Harapan atau Pengabdian sosial. Mengapa tidak kita coba Proyek Dialog?
Pengalaman perjumpaan itu juga dapat dilakukan dalam taraf yang lebih ilmiah, misalnya dengan mengadakan seminar bersama, atau kualiah bersama dengan Mahsiswa dari universitas Islam. Atau juga dengan mengaktifkan kembali SIM C yang selama ini sudah terbentuk.
Program semacam ini dirasakan sangat penting, karena ada kecurigaan bahwa mahasiwa FTW mendidik mahasiswa yang “jago Teori melulu”.  Memang selama ini kita telah mempelajari mata kuliah Islamologi, Teologi Agama, Dialog Agama, Alam Pikir Budha, Filsafat Hindu, tetapi semua itu hanya sebatas teori dan pengetahuan intelektual semata. Bukankah para para lulusan FTW justru akhirnya akan terjun ke tengah masyarakat. Jangan sampai hanya pandai berteori, tetapi tidak pandai dalam praktek. Jangan sampai hanya pandai secara intelektual, tetapi tidak memiliki kepribadian dan semangat cinta kasih sebagai saudara dalam berinteraksi dan berdialog dengan orang lain?

Cinta Tanpa Batas

Agape: Cinta Tanpa Batas

Kebanyakan orang takut pada kematian. Mengapa? Karena kematian dipahami sebagai akhir segala-galanya. Jika sudah mati, manusia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena itu manusia berusaha untuk mempertahankan hidupnya. Bahkan seandainya bisa manusia akan hidup selamanya. Tetapi pada kenyataanya manusia memiliki batas hidup. Dalam kitab Mazmur dikatakan bahwa batas umur manusia 70 tahun atau 80 jika kuat. Fakta inilah yang membuat manusia takut dan berusaha untuk mempertahankan hidupnya.
Namun jika seandainya Anda telah mengetahui hari kematian Anda? Kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Sebagai orang Kristiani yang percaya pada paham eskatologis, tentu saja akan berusaha untuk berlaku sebaik mungkin dan segera memperbaiki segala tingkah laku kita yang tidak baik selama ini. Harapannya adalah agar setelah hidup di dunia ini kita masih bisa hidup abadi pada hidup akhirat. Ataukah akan hidup bersenang-senang sampai sebelum ajal menjemput. Mumpung masih ada waktu.
Demikianlah yang dilakukan oleh seorang pemuda yang setelah pulang dari Guru Kebijaksanaan megetahui hari kematiannya. Sang guru kebijaksanaan mengatakan kepadanya bahwa besok, ia pasti akan meninggal pada pukul enam sore. Si pemuda pun diberikan sebuah botol yang berisi air. Si pemuda diharuskan untuk menghabiskan air itu sebelum matahari terbenam keesokan harinya. Dengan meminum air itu, dipastikan besok sore si pemuda akan mati. Karena sudah mengetahui hari kematiannya, sang pemuda pun berusaha untuk mengisi sisa hidupnya dengan segala hal yang bisa membuatnya bahagia. Di kantor dia berusaha untuk bersikap baik tehadap para karyawannya. Ia juga berusaha untuk menyayangi anak-anak dan istrinya bahkan ia mentraktir seluruh anggota keluarganya di sebuah restoran terkenal. Dan sebelum tidur malam ia menghampiri istrinya, mengecup keningnya berkata, “sayang, maafkan aku. Selama ini saya telah banyak berbuat salah padamu. Maafkan saya ya”. Apa yang dilakukannya itu sungguh tidak seperti biasanya.
Apa yang terjadi keesokan harinya? Ternyata si pemuda itu tidaklah meninggal. Karena ternyata air yang diberikan oleh sang guru bijaksana itu, bukanlah obat yang membuatnya bisa meninggal, tetapi justru dapat mengubah hidupnya.  
Hari ini kita memperingati malam Perjamuan Terakhir antara Yesus dengan para muridNya. Hari ini adalah malam perpisahan Yesus dan muridNya. Yesus telah mengetahui bahwa besok ia akan mati. Karena itu Ia ingin meniggalkan kenangan terindah dengan para muridnya. Apa yang Yesus lakukan? Ia memanggil murid-murid-Nya dan mereka melakukan perjamuan bersama. Sebenarnya, melakukan perjamuan pada hari sebelum paska ini adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang pada zaman itu. Ini bukanlah tindakan yang istimewa. Yang istimewa adalah bahwa dalam perjamuan malam itu Yesus menanggalkan jubahNya, lalu mengikatkan sehelai kain pada pinggangnya dan membasuh kaki para muridnya. Membasuh kaki? Ini adalah suatu pekerjaan yang sangat tidak layak dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya. Membasuh kaki adalah pekerjaan yang paling hina yang hanya bisa dilakukan oleh seorang hamba. Karena memang kaki adalah lambang martabat paling hina. Jadi, kalau Yesus membasuh kaki murid-Nya, berarti Ia sungguh merendahkan diri serendah-rendahnya. Dari peristiwa pembasuhan kaki ini, Yesus ingin menunjukkan keteladanan kerendahan hati dan pelayanan serta pengorbanan kepada kita. Selain itu, peristiwa perjamuan malam terakhir ini menjadi asal-usul perayaan ekaristi dalam gereja.
Tidak seperti kita manusia yang tidak mengetahui hari kematian kita. Yesus, jauh hari sebelumnya sudah mengetahui kapan Ia akan mati. Dan bahkan skenario kematiaannya pun sebenarnya sudah Ia ketahui. Ia sudah tahu bahwa Ia akan dihianati oleh murid-Nya sendiri, diitolak oleh orang sebangsa-Nya, ditinggal pergi oleh murid-Nya, disangkal oleh Petrus sampai 3 kali, diserahkan kepada tua-tua dan ahli-ahli taurat, diadili secara tidak adil, disiksa, diolok-olok, diludahi, dan sampai disalibkan. Semua itu sudah diketahuinya sejak awal.
Di samping itu, sudah sejak awal pula Yesus telah diberikan kuasa di surga maupun di dunia. Bapa-Nya telah mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya. “Segala sesuatu” berarti apa pun yang akan terjadi pada diri-Nya, sebenarnya bisa saja Ia kendalikan, termasuk mati-Nya secara demikian. Yesus bisa saja menjadi seperti Spiderman atau manusia superhero lainnya. Atau bisa juga ia melakukan magic-magic seperti yang dilakukan oleh Limbat dalam The Master itu. Dan sudah pasti bahwa Ia bisa mengatasi semua itu. Lalu menjadi tanda tanya besar bagi kita semua: Mengapa Yesus tidak mempergunakan kuasa-Nya itu? Jawabannya adalah karena kasih dan cinta-Nya pada manusia.
Sekarang pertanyaannya: apa itu cinta? Definisi cinta memang ada bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah perasaan yang ingin membagi bersama orang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa cinta adalah pengorbanan diri. Nah, cinta Yesus pada manusia lebih dari sekedar ingin berbagi dan mengorbankan diri. Cinta Yesus adalah cinta tanpa batas atau biasa disebut cinta agape, cinta yang selalu memberi tanpa menuntut balasan.
Memang cinta itu membutuhkan pengorbanan. Karena cinta-Nya pada manusia, maka Ia rela menghambakan diri dan mengambil rupa seorang hamba, membasuh kaki para murid, dan bahkan rela mati secara sungguh tidak terhormat di kayu salib. Mati disalib itu adalah suatu cara mati yang paling hina. Seorang yang disalib hanyalah seorang penjahat kelas kakap, misalnya pembunuh. Jadi kalau Yesus mati disalib itu bararti Yesus dianggap sebagai penjahat. Padahal kalau dilihat, dosa apa yang dialakukan oleh Yesus? Apakah dia pernah membunuh? Tidak. Yesus mati hanya karena Ia dituduh sebagai pemberontak dan pengacau oleh para tua-tua dan ahli-ahli taurat. Padahal sebenarnya hanya karena mereka cemburu / iri melihat pamor Yesus semakin naik. Yesus semakin terkenal, pengikutnya semakin banyak. Orang-orang yang selama ini mengikuti mereka sekarang justru ikut Yesus. Maka itu mereka khawatir jangan sampai nanti mereka tidak punya pengikut lagi. Itu berarti kekuasaan dan penghasilan mereka terancam. Sementara Yesus melakukan semua itu hanya untuk menyelamatkan manusia. Bukan untuk mencari pengikut. Atau untuk menjadi terkenal. Kita pun sering demikian. Kita iri hati terhadap keberhasilan orang lain, orang lain dianggap sebagai saingan. Karena itu melakukan segala cara untuk menghambat karier atau keberhasilan orang lain itu.
Kisah Yesus membasuh kaki murid-Nya ini, dapat memberikan beberapa permenungan bagi kita, yakni, pertama, Yesus sungguh mencintai kita. Cinta-Nya kepada kita itu diberikan secara cuma-cuma. Karena itu kita dituntut untuk juga membagi cinta itu secara cuma-cuma yakni saling melayani dan saling membasuh kaki. Dalam melayani jangan tunggu sampai orang lain melayani terlebih dahulu barulah kita melayaninya. Kecenderungan lain adalah bahwa kita kadang menuntut yang lebih muda untuk melayani terlebih dahulu. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa sikap pelayanan itu hanya bisa muncul jika kita rela menanggalkan “jubah kita”. Menanggalkan status quo kita, menanggalkan jabatan kita, menanggalkan umur kita. Jadi, kita diajak untuk mencintai sesama kita karena Tuhan lebih dahulu mencintai kita.
Kedua, cinta kepada sesama itu hanya bisa muncul jika kita telah berhasil mencintai diri kita. Cinta diri di sini tidak berarti egois. Cinta diri yang dimaksud adalah mensyukuri segala karunia yang telah kita dapatkan dalam hidup kita. Bersyukur atas bentuk fisiknya: hitam, kurus, cantik, gemuk, pendek, hidung mancung, pesek, keriting, dll. Bersyukur atas keluarga, pekerjaan, teman, pasangan hidup, tempat tinggal, dll. Hanya orang yang telah berhasil mencintai dirinyalah yang bisa mencintai orang lain.
Ketiga, mencintai alam. Memang tidak nampak jelas dalam bacaan, namun peran alam dalam hidup kita itu sangat penting. Kita hanya bisa saling mencintai jika tidak terjadi bencana alam, longsor atau banjir. Keempat, cinta pada Tuhan. Cinta pada Tuhan itu dapat diwujudkan dalam kerinduan kita untuk selalu bertemu denganNya, entah dalam doa, ibadat bersama, kegiatan-kegiatan lingkungan ataupun kegiatan Gerejani lainnya. Juga dapat dilakukan dengan kerinduan kita untuk berekonsiliasi dengan-Nya melalui sakramen tobat.
Semoga melalui keteladanan Yesus untuk saling mencintai dan mengasihi, kita juga dapat saling mengasihi dalam hidup kita. Mengasihi sesama, mensyukuri karunia Tuhan dalam hidup kita, mencintai alam dan yang paling penting adalah mencintai Dia yang telah mencintai kita secara cuma-cuma.

Fr. Cornelius Timang
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.


Goresan Tangan