Cinta Kasih Sebagai Bahasa Dialog
Pengantar
Aku berasal dari keluarga yang plural. Ayahku Katolik, tetapi ibuku Muslim, saudara-saudaraku yang lain ada yang ikut ayah tetapi ada juga yang Hindu. Orang tua ayahku memang sejak kecil mengimani iman Katolik. Bahkan dapat dikatakan bahwa dia termasuk orang Katolik yang cukup saleh. Dia sangat rajin ke Gereja kendati umurnya sudah lanjut. Setiap pagi, sebelum kami bangun, dia sudah duduk bersila di depan sebuah patung Bunda Maria di dalam kamarnya, sambil mendoakan doa-doa yang saat itu, aku belum tahu artinya. Ketika masa prapaska, dia juga masih menjalankan kewajiban berpantang dan berpuasa. Bahkan sepanjang 40 hari masa prapaska dia berpuasa, tidak hanya pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Karena Kekatolikan Kakekku yang begitu kuat, maka dia sangat menganjurkan agar semua anaknya tidak pernah meninggalkan ajaran Katolik. Oleh kerena itu ketika ibuku dan ayahku menikah, kakekku tidak mengizinkan ayahku meninggalkan iman Katolik, ibuku pun tidak ingin meninggalkan imannya.
Ibuku juga termasuk muslim yang soleh. Seingatku dia tidak pernah melalaikan kewajibannya menjalankan sholat 5 waktu. Ketika masa puasa dia tetap menyiapkan makanan untuk kami sekeluarga. Bahkan dia tidak merasa risih ketika memasak makanan yang haram bagi orang muslim pada umumnya. Ketika keluarga kami mendapat giliran doa lingkungan, ibuku tetap menyiapkan segala hal yang dibutuhkan saat ibadat itu. Dan pada hari raya besar yang dirayakan ayahku, ibuku selalu menyiapkan berbagai jenis kue-kuean untuk merayakan natal, tahun baru ataupun Paska. Dan demikian pula ketika hari raya Lebaran, kami sekeluarga merayakannya dengan gembira. Aku merasa sangat bahagia tinggal bersama keluargaku. Perbedaan iman sungguh bukanlah penghalang bagi keharmonisan keluarga kami.
Setelah dewasa aku baru menyadari bahwa keharmonisan keluarga kami ternyata tidak lahir begitu saja. Keharmonisan itu lahir dari sikap pengertian, penghargaan dan penerimaan satu sama lain. Itulah kunci keharmonisan dalam pluralitas. Kami tidak pernah menggunakan teori tinggi-tinggi dari para ahli, seperti yang aku terima dari para dosenku. Yang kami tahu adalah bahwa saling mengerti dan menghargai adalah keharusan bagi kami karena kami memiliki ikatan yang sama yaitu ikatan cinta sebagai saudara dan keluarga.
Keharmonisan Lahir dari Dialog
Seorang filsuf, misalnya Plato, jika ditanya apa kunci keharmonisan di dunia ini, dia akan menjawab “kunci keharmonisan jika seorang mampu mengekang keinginan badaninya semaksimal mungkin”. Karena bagi Plato, badanlah yang memenjara jiwa sehingga tidak terjadi keharmonisan. Pendapat ini memang ada benarnya. Jika semua orang tidak mampu mengekang keinginannya sendiri, maka yang terjadi hanyalah kekacauan dan ketidakharmonisan. Karena memang pada dasarnya, secara kodrati, manusia hidup dengan makhluk lain. Dan ia tidak bisa hidup sendiri, tanpa bantuan dan keterlibatan yang lain. Jika ia tidak mampu mengekang keinginannya sendiri maka yang terjadi pastilah ketidakharmonisan.
Lain filsuf, lain teolog. Bagi seorang teolog, keharmonisan akan tercapai jika manusia mampu hidup bersama dengan makhluk lain. Dan lebih dari itu, ia harus bisa membina hubungan yang mesrah dengan Teos, Si pemberi kehidupan. Keharmonisan itu hanya bisa tercapai jika manusia mampu hidup berdampingan dengan makhluk lain (sesama), mampu mengekang keegoisannya dan memiliki kepercayaan bahwa Tuhanlah satu-satunya penyelenggara hidupnya.
Para sosiolog dan antropolog juga akan setuju dengan jawaban di atas. Tetapi, alasannya mungkin berbeda. Bagi filsuf, pengekangan keinginan badan itu diperlukan untuk keharmonisan karena pada dasarya badan itu fana, sementara jiwa abadi. Bagi teolog alasannya karena adanya kekuatan “Super” di luar diri manusia, yang menjadi panoptik baginya. Tetapi bagi sosiolog, alasanya adalah karena manusia tentu saja tidak bisa hidup sendiri. Adanya fakta pluralitas di dunia ini. Manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Tentu saja keharmonisan itu tidak bisa tercapai dengan sendirinya. Interaksi dengan yang lain pun masih dibutuhkan. Interaksi itulah yang memungkinkan manusia menyampaikan maksud dan keinginannya pada orang lain. Dengan kata lain interaksi atau dialog menjadi peting untuk komunikasi satu sama lain. Namun sebenarnya alasan dialog bukan hanya itu, dialog atau interaksi juga dibutuhkan karena adanya fakta kebenaran di luar diri manusia. Fakta kebenaran itu dijumpai di dalam diri sesama, tidak hanya dalam dirinya sendiri.
Dialog sebagai Kebutuhan
Secara faktual, memang manusia tidak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu manusia membutuhkan orang lain. Namun dalam perjumpaan dan interaksinya dengan manusia lain, kandang mengalami masalah dan “Kles” atau ketidakcocokan. Ketidak cocokan ini tentu saja lahir dari adanya fakta pluralitas. Karena plural, maka kles dan miskomunikasi adalah sesuatu yang wajar. Kendatipun demikian, tidak berarti bahwa manusia harus menutup diri agar tidak terjadi kles itu. Justru karena adanya fakta pluralitas dan bahwa karena manusia tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, maka dialog menjadi suatu kebutuhan atau bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah kebutuhan.
Dalam interaksi bidang keagamaan, dialog juga menjadi penting karena adanya fakta pluralitas. Kardinal Jean-Louis Tauran, Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama (PCID), mengatakan “agama dapat menghasilkan yang terbaik tetapi juga yang terjahat. Ia dapat membuat orang menjadi suci tetapi juga bisa membuat orang merasa disingkirkan. Oleh kerena itu, demi masa depan kemanusiaan, kita ini ditakdrikan untuk berdialog”. Ini berarti bahwa dialog memang merupakan suatu yang harus dilakukan.
Fakta pluralitas ini sungguh membawa suatu dampak yang sangat besar bagi interaksi antar pemeluk agama. Namun kadang menjadi permasalahan adalah bahwa urgentitas dialog kadang sangat dipengaruhi oleh keberadaan suatu agama. Ketika suatu agama menjadi minoritas, tentu saja dialog akan sangat diagung-agungkan. Namun jika sebagai agama mayoritas, apakah dialog akan juga diutamakan? Permaslaahan lain yang juga muncul adalah bahwa efek dialog akan sangat kurang dirasakan ketika masih berada dalam lingkungan yang homongen.
Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan homogen dalam bidang agama yang sekarang ini dialai di FTW in, secara tidak langsung membentuk suatu mental pragmatis. Seakan-akan dialog itu tidak begitu urgen dan penting. Sebagai mahasiswa teologi, promosi panggilan, mendalami pemikiran para filsuf dan teolog jauh lebih urgen dari pada dialog. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan efeknya yang saat ini langung dirasakan. Masalah dialog sekarang ini di FTW belum terlalu kami rasakan. Paling banter kami alami secara langsung ketika kami jalan-jalan ke universitas lain. Tetapi itu pun sangat jarang kami lakukan. Pengalaman inilah yang membentuk mental kami. Tetapi tentu saja kita tidak akan jatuh dalam pragmatisme semacam ini jika kita selalu menempatkan pemikiran kita dalam ranah yang lebih luas, yaitu masa depan kemanusiaan.
Membutuhkan dialog karena minoritas di atas akan sangat gampang kita jumpai dalam hidup kita. Mari kita lihat daerah Flores misalnya yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Siapa yang sangat merindukan dialog? Tentu saja umat minoritas, bukan Katolik sebagai kaum mayoritas. Atau misalnya di Aceh dan Makassar yang lebih dari 90 % masyarakatnya beragama Islam. Yang sangat mengagung-agungkan dialog adalah agama minoritas. Juga kita dapat menjumpai gejala ini dalam sejarah peradabaan manusia. Pada sekitar abad pertama ketika Islam mengalami puncak kejayaan, muncul berbagai semboyan yang sampai sekarang kadang dijadikan oleh aliran keras sebagai referensi dalam men-judge, agama lain, “Islam adalah satu-satunya agama yang di Ridhoi Allah”. Dan pada sekitar abad pertengahan ketika Katolik mengalami puncak kejayaan, sempat muncul suatu adagio yang kendatipun kurang kontekstual, kadang dijadikan sebagai senjata, “ektra ecclesiam nulla salus”. Fakta ini ingin menunjukkan bahwa secara tidak langsung urgensitas dialog kadang ditentukan oleh eksistensi kwantitasnya pada saat itu.
Nah, menjadi pertanyaan kritis kita sekarang: jangan sampai dialog yang kita bagun selama ini atau yang akan kita bangun itu justru dilatarbelakangi oleh fakta minoritas kita sekarang ini?
Secara teologis-biblis petingnya dialog tidak dapat dilepaskan dari peristiwa inkarnasi, Allah menjadi Manusia. Dalam peristiwa itu, adalah inisiatif Allah pertama-tama. Selain itu, inisiatif Allah ini merupakan suatu suatu tidakan cinta Allah pada manusia. “Begitu besar cinta-Nya pada manusia sehingga Ia menyerahkan anak-Nya yang Tunggal menjadi manusia”. Karena Allah telah lebih dahulu mengadakan “Dialog” sejati pada manusia, maka kita pun diajak meneruskan diaog itu pada sesama. Jadi seharusnya dialog itu selalu diletakkan dalam konteks ini. Dialog dilakukan bukan karena kita adalah kaum minoritas, tetapi dialog merupakan panggilan hidup kita sebagai pengikut Kristus. Oleh karena itu dialog adalah konsekuensi iman kita. Dialog adalah suatu kebutuhan dan nafas iman kita.
Dialog Cinta Kasih
Pertanyaannya sekarang adalah: dialog macam apa yang akan kita bangun sekarang ini? Dan bagaimana kita memulainya?
Kardinal Tauran mengatakan bahwa dialog yang benar adalah dialog saling pengertian, yang memiliki bahasa yang sama, dengan kejujuran dan keinginan untuk memahami pandangan masing-masing. Pandangan Kardinal Tauran ini sekiranya dapat dijadikan sebagai acuan dalam dialog kita sekarang ini. Paling kurang ada 3 hal yang dikatakan oleh beliau yaitu: pengertian, bahasa yang sama dan kujujuran. Ketidakberhasilan dialog, kadang disebabkan karena tidak adanya saling pengertian. Masing-masing merasa bahwa apa yang diyakininyalah yang paling benar dan yang diyakini orang lain salah. Oleh karena itu sekiranya benarlah apa yang dikatakan Paus Paulus VI dalam ensikliknya Ecclesiam Suam. Beliau mengajukan 3 langkah, yaitu kesadaran, pembaharuan diri dan yang terakhir adalah dialog. Jadi Paus mengajak kita bahwa sebelum berdialog, kita harus memiliki kesadaran akan apa yang diyakini, dan setelah itu membaharui diri. Dan jika kedua langkah itu sudah dilaksanakan, maka langkah ketiga adalah berdialog.
Selain itu, bahasa dalam dialog juga penting. Bahasa dalam ini penting karena untuk menyamakan persepsi kita. Sekarang ini bahasa apa yang sekiranya cocok? Bahasa persaudaraan dan cinta kasih sekiranya dapat dijadikan bahasa yang pas saat ini. Merasa sebagai saudara, merasa senasib, merasa saling membutuhkan, merasa terbatas, semua itu harus diikat oleh suatu perasaan: yaitu cinta kasih.
Dialog yang didasari oleh cinta kasih ini mendapat pendasarannya pada “dialog” Allah-manusia. Dialog cinta kasih, adalah dialog yang didasarkan pada persaudaraan dan kekeluargaan. Sebagaimana keharmonisan dalam sebuah keluarga hanya dapat tercapai ketika ada perasaan cinta sebagai saudara dalam keluarga.
Penutup
Adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia hidup selalu bersama dan membutuhkan orang lain. Karena alasannya itulah maka manusia pun berinteraksi dengan sesamanya. Dalam bidang keagamaan pun demikian, pentingnya interaksi atau dialog dengan agama lain karena fakta sosial manusia. Dan lebih dalam daripada itu, alasan dialog mendasarkan sumbernya pada peristiwa inkarnasi. Peristiwa cinta Allah yang tidak terbatas pada manusia. Karena itu dialog sesungguhnya mendapat nilainya pada dialog cinta kasih.
Lalu bagaiman Dialog dilaksanakan? Dalam konteks sekarang ini di FTW, sekiranya hal itu dapat dilaksanakan dengan semakin banyak mengalami pengalaman perjumpaan dengan orang lain, terutama agama lain. Hal itu dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan live-in bersama di sebuha pesantren. Bahkan jika bisa, kegiatan ini dapat dijadikan sebagai suatu kegiatan yang terprogram. Misalnya yang dilakukan pada mata kuliah lain seperti Proyek Sosial, Proyek Harapan atau Pengabdian sosial. Mengapa tidak kita coba Proyek Dialog?
Pengalaman perjumpaan itu juga dapat dilakukan dalam taraf yang lebih ilmiah, misalnya dengan mengadakan seminar bersama, atau kualiah bersama dengan Mahsiswa dari universitas Islam. Atau juga dengan mengaktifkan kembali SIM C yang selama ini sudah terbentuk.
Program semacam ini dirasakan sangat penting, karena ada kecurigaan bahwa mahasiwa FTW mendidik mahasiswa yang “jago Teori melulu”. Memang selama ini kita telah mempelajari mata kuliah Islamologi, Teologi Agama, Dialog Agama, Alam Pikir Budha, Filsafat Hindu, tetapi semua itu hanya sebatas teori dan pengetahuan intelektual semata. Bukankah para para lulusan FTW justru akhirnya akan terjun ke tengah masyarakat. Jangan sampai hanya pandai berteori, tetapi tidak pandai dalam praktek. Jangan sampai hanya pandai secara intelektual, tetapi tidak memiliki kepribadian dan semangat cinta kasih sebagai saudara dalam berinteraksi dan berdialog dengan orang lain?